KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Media sosial (Medsos) merupakan dunia tanpa batas. Di sana, para penggunanya bisa berinteraksi dengan siapa saja dan berhak menjadi siapa saja.

Dalam jagad medsos, para pengguna bisa saja melupakan etika dan proses pergaulan seperti yang wajib dilakukan di dunia nyata. Akan tetapi, bukan berarti kebebasan yang didapatkan tidak memberikan dampak apa pun.

Sebaliknya, menurut Rani Armalita dan Avin Fadila, kebebasan di media sosial justru mendatangkan dampak yang besar bagi kondisi psikologis penggunanya.

Dalam penelitiannya berjudul Iri di Jejaring Sosial: Studi tentang Teori Deservingness (2018), dua ilmuwan psikologi ini menjabarkan bagaimana rasa iri bisa terbentuk di saat para mahasiswa pengguna medsos melihat postingan dari pengguna lainnya.

Rani dan Avin menjabarkan fungsi dari medsos, yakni  presentasi diri (menampilkan diri) baik itu secara real maupun virtual, dan dapat digunakan sebagai media berinteraksi, seperti mengobrol secara online berupa kiriman teks maupun gambar.

“Dan pada saat ini kecanggihan teknologi smartphone dapat berinteraksi melalui visual atau dikenal video call. Selain itu, media sosial juga berguna untuk mengusir rasa kesepian dan arena curhat bagi para penggunanya,” tulis mereka dalam penelitian yang terbit di Jurnal Fakultas Psikologi UGM.

Akan tetapi, selaian dampak positif, medsos juga memiliki dampak negatif seperti menimbulkan rasa iri akibat membandingkan diri sendiri dengan orang lain.