Berkah Hidup Mengandalkan Allah

55
Bagi Sri Hascaryo, hidupnya kini lebih banyak digunakan untuk memberikan manfaat untuk orang banyak, memberikan lapangan pekerjaan hingga aktif dalam kegiatan sosial serta kemanusiaan. Foto : Nabil/KAGAMA
Bagi Sri Hascaryo, hidupnya kini lebih banyak digunakan untuk memberikan manfaat untuk orang banyak, memberikan lapangan pekerjaan hingga aktif dalam kegiatan sosial serta kemanusiaan. Foto : Nabil/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Kisah hidup yang dialami Sri Hascaryo mirip dengan cerita Nabi Ayub di dalam Kitab Suci.

Ayub adalah sosok yang setia kepada Allah meski dia mendapat cobaan yang begitu berat.

Harta bendanya habis dalam sekejab, terkena penyakit, hingga keluarga sendiri meninggalkannya.

Namun berkat kesetiaan dan hidup Ayub yang mengandalkan Allah semata, akhirnya dia mendapat berkat serta ganjaran hidup berlimpah dari-Nya.

Yoyok – begitu panggilan akrabnya – menuturkan sepenggal kisah hidupnya secara lugas kala ditemui KAGAMA di rumahnya, di sebuah kawasan elit di Jakarta.

Selepas lulus kuliah dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 1989, dia sempa bekerja di Bank CIMB Niaga hingga beberapa tahun.

Setelah itu dia bergabung dengan perusahaan milik keluarga Bakrie dan kariernya melesat hingga menempati posisi tinggi.

“Saya juga berterima kasih kepada keluarga Bakrie karena telah diberi kesempatan membuka usaha sendiri meski saya tetap bekerja di perusahaan mereka.”

“Saya pun memulai usaha di luar bisnis yang digarap perusahaan milik Bakrie,” paparnya.

Usaha Yoyok berkembang pesat hingga krisis moneter mengguncang Indonesia pada tahun 1998.

Selain grup perusahaan Bakrie, tempatnya bekerja, dihantam krisis finansial, usaha bisnis yang dirintisnya juga dihantam masalah yang sama hingga tertatih-tatih.

Namun kehidupan Yoyok mengalami titik nadir pada tahun 2002 karena dia mengalami kebangkrutan akibat ditipu oleh rekan bisnisnya.

Masalah tidak selesai karena justru dia ketiban pulung sebab mesti melunasi hutang pinjaman tersebut.

Dia pun jadi berhutang dalam jumlah miliaran rupiah.

Aset rumah, tanah, hingga mobil yang dia kumpulkan ludes untuk membayar hutang tersebut meski tidak terlunaskan.

Dia pun sampai dilaporkan ke pihak kepolisian hingga rumahnya sering didatangi debt collector yang menagih dengan garang.

“Saat saya sudah mentok dan tak tahu mesti berbuat apa karena dihantam masalah yang amat berat. Tinggal satu hal yang bisa saya lakukan, yakni menyandarkan diri pada Yang Maha Kuasa.”

“Saya tinggal mengandalkan Allah semata dan terbukti Dia tak pernah meninggalkan saya yang tengah bergulat dalam kesulitan ,” papar alumnus Fakultas Hukum angkatan 1983 tersebut.

Perlahan-lahan usaha bisnis kembai merangkak naik dan berubah jadi lebih besar dari sebelumnya.

Bahkan hanya dalam jangka waktu dua tahun, ia mampu melunasi seluruh hutangnya.

“Saya percaya campur tangan Tuhan. Pasalnya, jika dipikir secara nalar manusia, apa yang saya alami seperti tak mungkin terjadi.”

“Selain itu, saya juga punya jaringan kerja yang bagus dan integritas sehingga dipercaya orang,” papar ayah dari tiga orang putri ini.

Bangkit dari keterpurukan, Yoyok sukses mengembangkan sayap bisnisnya sendiri.

Ia mendirikan holding dengan bendera PT Karya Tangguh Persada yang membawahi beberapa perusahaan seperti, PT Dagsap Endura Eatore (makanan olahan), PT Paksi Nagaliman Wisata (tur dan travel), PT Garansindo (agen pemegang merek mobil Jeep, Dodge, Chrysler, Fiat Alfa Romeo, dan Land Rover), serta PT Pesona (agen pemegang merek mobil Aston Martin).

Di sisi lain, Yoyok tetap setia bekerja di lingkungan perusahaan keluarga Bakrie.

Saat ini dia masih menjabat sebagai Presiden Direktur di PT Bakrie Swasakti Utama.

Dia tak pernah melupakan jasa keluarga Bakrie yang punya andil membesarkan dirinya sebagai pengusaha.

“Model usaha seperti Bakrie bisa ditiru untuk melahirkan entrepreneur baru.”

“Karyawan diberi peluang untuk jadi pengusaha hingga mandiri,” ungkap penggemar off road ini.

Bagi Yoyok, hidupnya kini lebih banyak digunakan untuk memberikan manfaat pada orang banyak, memberikan lapangan pekerjaan hingga aktif dalam kegiatan sosial serta kemanusiaan.

“Saya ingin hidup saya dapat memberi manfaat bagi banyak orang.”

“Harta benda cuma titipan dari Yang Maha Kuasa, saya bersyukur atas apa yang Allah titipkan pada saya.”

“Oleh sebab itu, saya pun berupaya memanfaatkannya dengan sebaik- baiknya untuk membantu sesama,” ucap Yoyok mengakhiri kisahnya. (Jos)