Bersama dengan tiga peneliti UGM lainnya yaitu Prof. Dr. Ir. Bambang Yulistiyanto, Dr. Ir. T. Aris Sunantyo, M.Sc., dan Dr. Ir. Prajitno, M.T., Suprapto memulai membangun PLTMH dengan memanfaatkan aliran Sungai Lewara sebagai pembangkit listrik. Pengembangan PLTMH telah dimulai pada bulan Februari 2017 lalu dan ditargetkan dapat segera selesai pada akhir Desember 2017.

“Adanya PLTMH ini tidak hanya untuk menghadirkan listrik bagi warga saja, namun lebih dari itu mampu meningkatkan pengembangan potensi ekonomi masyarakat,” harapnya.

Untuk penerangan di malam hari, selama ini warga Lewara masih menggunakan alat penerangan tradisional yaitu lampu dari minyak tanah. (Foto: Humas UGM)
Untuk penerangan di malam hari, selama ini warga Lewara masih menggunakan alat penerangan tradisional yaitu lampu dari minyak tanah. (Foto: Humas UGM)

Masyarakat Lewara tergolong miskin dengan tingkat pendidikan rendah. Mayoritas bekerja sebagai petani kakao, kopi, jagung, dan cengkeh dengan penghasilan kurang dari 1 juta setiap bulan. Ketiadaan listrik semakin mempersulit warga untuk maju dan berkembang.

“Dengan adanya listrik diharapkan dapat mendukung kegiatan warga sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Lewara,” jelasnya.