Menyusuri jalanan yang tidak rata penuh dengan tanjakan, turunan, dan kelokan tajam di sepanjang lereng Gunung Matantimali dan sisi lain jurang yang cukup dalam menambah berat perjalanan menuju desa Lewara. Sementara pada musim hujan, jalanan semakin sulit dilewati karena bukit rawan longsor.

Desa Lewara terdiri dari lima dusun yang seluruhnya belum mendapatkan aliran listrik dari pemerintah. Sementara pembangkit listrik yang tengah dibangun oleh UGM ini berada sekitar 200 meter tidak jauh dari pemukiman penduduk, tepatnya di dusun I Lewara yang memiliki 100 kepala keluarga (KK) dengan penduduk sekitar 300 jiwa. Memanfaatkan aliran sungai Lewara yang memiliki debit kritis 90-100 liter/detik dirancang nantinya dapat mengaliri listrik untuk 100 KK.

Warga Lewara telah lama memimpikan bisa menikmati aliran listrik. (Foto: Humas UGM)

Warga Lewara telah lama memimpikan bisa menikmati aliran listrik. (Foto: Humas UGM)

“Kita manfaatkan aliran Sungai Lewara untuk pembangkit listrik dengan kapasitas 10 Kilowatt. Nantinya dalam tahap awal akan dialirkan ke 100 rumah sehingga masing-masing mendapat aliran listrik sebasar 100 watt,” kata Ketua Tim Peneliti UGM, Dr.Ir. Suprapto Siswosukarto, belum lama ini.

Prapto menyampaikan bahwa warga Lewara telah lama memimpikan bisa menikmati aliran listrik. Hanya saja, listrik masih jauh dari jangkauan mereka. Karenanya, melalui program Community Resilience and Economic Development (CaRED), UGM bekerjasama dengan pemerintah Selandia Baru berupaya membangun daerah tertinggal di Indonesia timur salah satunya menghadirkan listrik bagi masyarakat Lewara.