Belajar Kemanusiaan dari Rektor Ketujuh UGM Prof. Dr. Teuku Jacob

269
Ada pesan kemanusiaan yang disampaikan Prof. Dr. Teuku Jacob, M.S.,M.D., dalam pidato Dies Natalis ke-50 UGM pada 1999. Foto: istimewa
Ada pesan kemanusiaan yang disampaikan Prof. Dr. Teuku Jacob, M.S.,M.D., dalam pidato Dies Natalis ke-50 UGM pada 1999. Foto: istimewa

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Keahlian dalam bidang antropologi ragawi dipilih Prof. Dr. Teuku Jacob, M.S.,M.D., dengan alasan cukup sederhana.

Dia mengaku tidak tahan bau mayat.

Demikian seperti yang dikatakan Pak Jacob dalam Berita KAGAMA edisi Februari 2001.

Dia mengenang waktu yang dihabiskan dalam tempo 1949-1956 itu.

Namun, spesialisasi ilmu yang dia tentukan kala berkuliah di FK (sekarang FK-KMK) UGM itu berbuah hasil yang tak dinyana.

Pak Jacob memang tersohor berkat temuan fosil Homo Erectus di Sangiran, Sragen, serta Homo Floresiensis di Liang Bua, Pulau Flores.

Namun bukan tulang-belulang manusia saja yang dia dapatkan.

Baca juga: Kebetulan yang Membuat Rektor Ketujuh UGM Jadi Antropolog Terkenal di Dunia

Ada hikmah kemanusiaan yang diambil Pak Jacob di setiap perjalanannya ke berbagai belahan negara.

Dekan FK UGM 1975-1979 ini berbagi ilmu kemanusiaan kala menyampaikan pidato berjudul “Waktu, Manusia, dan Perubahan” dalam Dies Natalis ke-50 UGM, Desember 1999.

Menurutnya, banyak orang yang mati sia-sia.

Hal itu adalah gara-gara ulah manusia yang menimbulkan penderitaan.

Di mata Pak Jacob, alih-alih memelihara perdamaian, kerusakan tatanan dunia justru tercipta dari orang yang memilih jalan perang.

 “Sebelum Saya juga mati, Saya berusaha memberikan sumbangan yang terkait dengan usaha-usaha perdamaian,” ucap Pak Jacob, penuh harap.

Saat menyoroti Indonesia, ayah satu orang putri ini mengatakan bahwa etika dan moral nasional sudah runtuh dengan kepribadian yang kacau balau.

Baca juga: Jawaban untuk Mengatasi Gangguang Kesehatan Mental di DIY