Begini Resep Entrepreneur Muda Ardhi Setyo dalam Memajukan Desa Tertinggal

142
Business is Masterpiece.(Foto: Tita)
Business is Masterpiece.(Foto: Tita)

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Profit sudah menjadi keharusan dalam suatu bisnis. Akan tetapi, bisnis tersebut akan mudah ditumbangkan oleh bisnis yang lain apabila tidak memiliki value.

Hal tersebut disampaikan oleh Ardhi Setyo Putranto dalam Launching Buku Business is Masterpiece di Vigloasia Building, Yogyakarta, pada Kamis (20/12/2018).

Dalam buku pertama yang dituliskannya ini, Ardhi tidak membicarakan tentang marketing strategy yang banyak dibahas orang lain. Ia membagikan pengalaman berkarier sebagai entrepreneur dan memberikan kepedulian pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang kondisinya terbilang mengkal di Desa Mertelu, Gunungkidul, DIY.

“Potensi perkembangan UMKM di Indonesia itu besar, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa UMKM ini tidak berkembang maupun collapse, tetapi mengkal atau kunthet,” ungkap alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM angkatan 2010 ini.

Ardhi menambahkan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti keterlibatan pemerintah, masalah di dalam UMKM itu sendiri, hingga tidak adanya media yang dapat membantu perkembangan UMKM.

Ardhi juga menjelaskan dalam bukunya bahwa seorang entrepreneur tidak hanya terfokus pada mendapatkan uang. Entrepreneur juga harus memikirkan perkembangan dari usaha yang dimilikinya. Pemahaman itulah yang antara lain diterapkan Ardhi saat mengembangkan Desa Merteleu di bidang UMKM.

Pria yang telah memulai bisnisnya sejak usia 19 tahun ini mengatakan, “Dalam jangka pendek, mungkin bisnis yang dijalani bisa banyak merugi. Tetapi, untuk jangka panjang atau menengah, entrepreneur yang memperhatikan perkembangan ini dapat memiliki bisnis dengan pertumbuhan yang paling tinggi.”

Bersama rekannya dari Infosis Teknologi Indonesia Rafif Adziabi, dan Kepala Desa Mertelu Tugiman, Ardhi dinilai sukses memajukan Desa hanya dalam kurun dua tahun. Selain fokus pada usaha UMKM, kolaborasi dengan Rafif ia tempuh untuk memperkenalkan teknologi bagi masyarakat.

“Saya bekerja sama dengan Ardhi yang kebetulan ikut mengembangkan Mertelu dengan dana desa. Apabila Ardhi mengembangkan entrepreneur, saya ingin teknologi informasi (TI) masuk ke desa. TI yang lebih banyak digunakan di pemerintah, pendidikan, dan korporasi. Padahal desa dengan potensi besar untuk maju pun membutuhkan TI,” ujar Rafif menambahkan.

Kepala Desa Mertelu, Tugiman mengaku sangat senang dengan upaya Ardhi untuk memajukan desanya yang saat ini dapat lebih berkembang. Dengan bantuan inilah, sumber daya manusia di Mertelu dapat berkembang dan pola pikirnya dapat lebih terbuka.

“Ardhi datang ke Mertelu yang masih sulit dijangkau dan tergolong sebagai desa tertinggal,” ungkap Tugiman.(Tita)