KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Ir. Rani Sjamsinarsi, MT menjelaskan permasalahan sampah di TPA Piyungan dalam Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Permasalahan dan Solusi Pengelolaan Sampah Perkotaan” di Heritage Place, Yogyakarta (07/11/2018).

Selaku Manajemen Unit TPS DIY, pada acara yang diadakan oleh Pusat Inovasi Agroteknologi ini, ia menyampaikan bahwa penumpukan sampah yang terjadi di TPA Piyungan sudah lumrah terjadi di negara berkembang.

 

“Pengelolaan TPA Piyungan baru dilakukan pada 2015 karena sebelumnya sampah hanya diangkut dan ditumpuk ke tempat tersebut,” ujarnya.

Untuk meningkatkan fungsi pengelolaan, kata Rani, maka TPA Piyungan dengan lahan 12,5 ha diperluas lagi dengan tambahan 2,3 ha. Upaya perluasan ini pun baru dapat dilakukan pada 2017 karena harga tanah yang cukup mahal.

Menurut Rani, alasan perlunya memperluas lahan adalah TPA Piyungan sudah terlalu penuh untuk menampung sampah-sampah dari 1,3 juta penduduk kota di Yogyakarta. Masalah yang ditemui di TPA Piyungan adalah sampah belum dipilah dan volumenya cenderung selalu bertambah.

Masalah ini diperparah dengan tidak adanya alat khusus yang digunakan untuk memilah sampah. “Sampah di TPA Piyungan masih dipilah oleh pemulung dan sapi,” ujar Rani. Menurutnya, ketiadaan alat ini disebabkan oleh minimnya anggaran yang ditujukan untuk pengelolaan sampah.

Di akhir materi yang disampaikan Rani, disebutkan bahwa kunci dari pengelolaan sampah adalah meningkatkan kepedulian terhadap sampah, membangun komitmen pemerintah, serta mengembangkan riset dan teknologi pengolahan sampah.(Tita)