KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sebuah studi menyatakan bahwa keunikan Bali sebagai pariwisata bertaraf internasional merupakan akibat dari kerja sama kosmopolitan antara masyarakat lokal dengan turis hippies.

Adanya pertemuan dua kebudayaan baru ini telah memberikan keuntungan dalam aspek ekonomi, serta mempengaruhi budaya, gaya hidup, cara pandang, dan ilmu yang baru untuk kepentingan wisata. Keuntungan ini dapat dilihat dari didirikannya losmen, restoran, dan galeri seni.

Dalam tesisnya, Eka Ningtyas menjelaskan bahwa secara penampilan, hippies dapat dikatakan nyentrik. Biasanya mereka berambut gondrong, berpakaian warna-warni , menggunakan manik-manik, serta tidak mengenakan bra bagi kaum perempuan.

Akan tetapi, kehadiran turis hippies ini oleh Orde Baru dipandang sebagai sebuah perlawanan terhadap negara, karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Dengan adanya anggapan ini, maka pengaturan mengenai visa, tiket perjalanan, dan uang tunai, menjadi diperketat.

“Bahkan, di lokasi-lokasi wisata dan kantor pemerintahan ditempel poster yang melarang penampilan layaknya hippies,” tulis Eka, yang mempertahankan Tesisnya untuk meraih gelar Magister Ilmu Sejarah UGM pada 2016 ini.

Tesisyang berjudul “Dari Ekspatriat Barat sampai Hippies: Pariwisata Bali 1920-1970-an” ini membandingkan pula pariwisata Bali pada masa Orde Baru dengan hippies-nya dan kolonial Belanda yang berbenturan dengan ekspatriat Barat.

ApabilaOrde Baru menganggap bahwa hippies tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, maka kolonial Belanda pada 1920-1930-an memandang bahwa ekspatriat (orang asing yang tinggal sementara) Barat berpotensi mengancam stabilitas negara kolonial.

Hal tersebut dapat terjadi karena ekspatriat Barat membawa ide-ide modernitas seperti nasionalisme, serta kesetaraan kelas dan gender. Namun, kedatangan ekspatriat Barat ke Bali ini sebagai akibat dari dibukanya Vereeniging Toeristenverkeer in Nederlandsch Indie (VTNI) di Bali pada 1914.

Lembaga tersebut yang selalu menunjukkan eksotisme Bali dan memberi sebutan dengan “Mutiara Kepualauan Nusa Tenggara”. Dengan adanya promosi ini, maka tak heran apabila nama Bali lebih dikenal di mata dunia daripada Indonesia.(Tita)