KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Perhelatan Economic Jazz di UGM sudah memasuki usia yang ke 31 tahun. Sudah banyak musisi jazz nasional maupun internasional yang manggung di konser ini. Tapi, kenapa sih jazz?

Tony Prasetiantono, promotor Economic Jazz menceritakan sedikit seluk beluk festival ini dari tahun ke tahun saat Konferensi Pers UGM Jazz 2018 di Hotel Royal Ambarukmo (02/11/2018).

Tony menjelaskan, alasannya saat pertama kali mengadakan Economic Jazz di UGM tahun 1987 ialah, jazz saat itu menjadi genre musik yang banyak digemari orang Indonesia.

Meski sebetulnya menurut dia musiknya tidak jazz betul, tapi lebih fusion jazz atau smooth jazz. Nama-nama seperti Mozaforte, Karimata atau Fourplay banyak mendapatkan pendengar di Indonesia.

Konferensi Pers UGM Jazz 2018.(Foto: Maulana)
Konferensi Pers UGM Jazz 2018.(Foto: Maulana)

Tony termasuk yang tergila-gila dengan musik itu. Ia mengidentikkan kegilaan anak muda zaman itu terhadap musik jazz dengan kegilaan kawula muda saat ini terhadap musik Korea.

“Jadi koreanya kami itu ya Bob James, Candra Darusman, mereka adalah dewa-dewa yang kami kagumi,” jelasnya.

Sebagai bentuk kekaguman tadi, Tony merasa tak cukup mendengarkan lewat kaset atau piringan hitam, tapi juga harus mengundang mereka untuk manggung. Maka digelarlah hajatan Economic Jazz.

Di festival yang pertama pada 1987, bintang tamu yang diundang merupakan musisi jazz nasional, di antaranya ada Karimata dan Ruth Sahanaya.

“Yang umum diundang kebanyakan smooth jazz bukan jazz yang kompleks,” terang Tony.

“Jadi kenapa jazz, saya kira jujur saja mungkin lebih ke arah personifikasi kita senengnya apa, karena saya senengnya musik itu,” lanjutnya.