Banyak Kekacauan Terjadi Saat PON ke-III di Medan Tahun 1953

39
Kejadian paling parah terjadi di cabang olah raga lari maraton 10.000 meter. Para peserta melakukan protes dan terjadi kericuhan di lapangan seusai pertandingan. Foto: sejarahponind
Kejadian paling parah terjadi di cabang olah raga lari maraton 10.000 meter. Para peserta melakukan protes dan terjadi kericuhan di lapangan seusai pertandingan. Foto: sejarahponind

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pekan Olahraga Nasional yan ke-III digelar di Medan, Sumatra Utara pada 20 September-27 September 1953.

Perheletan tersebut menjadi salah satu pencapaian puncak para pegiat dunia olah raga di tanah air.

Semua persiapan atlet, fasilitas olah raga, pengumpulan dana disiapkan untuk menyukseskan perhelatan paling bergengsi saat itu.

Sebelum di Medan, PON ke-II di selenggarakan di Jakarta pada tanggal 21 hingga 28 Oktober 1951.

Bagi tuan rumah penyelenggara PON tak sekadar urusan olah raga.

Kota Medan dituntut untuk dapat mengelola segala sesuatu di luar lapangan.

Mulai dari lalu-lintas, penginapan, ketersediaan air dan makanan, serta kebutuhan penunjang lainnya.

Baca juga: Olahraga Sederhana yang Dapat Dilakukan di Tengah Kesibukan

Untuk memenuhi itu semua dibutuhkan kerja panitia yang baik.

Uniknya dalam PON ke-III sebagian besar panitia berasal dari anggota angkatan perang kemerdekaan.

Salah satu yang menjadi sorotan saat itu adalah ketersediaan air.

Berbeda dengan Jakarta, ketersediaan air bersih untuk atlet jauh lebih baik di Medan.

Namun keberadaan angkutan sedikit bermasalah di PON ke-III tersebut.

Banyak peserta yang akhirnya terpaksa berjalan kaki ke arena perlombaan.

Pada perheletan tersebut, Majalah Gadjah Mada selaku pers mahasiswa pertama di UGM pernah melakukan liputan khusus di lokasi.

Baca juga: Gebrakan Helmi untuk UKM Atletik UGM