Bambang Laresolo: Teh Indonesia Harus Bisa Mengekor Kesuksesan Kopi

32
Master Tea Blender, Bambang Laresolo mengungkapkan, teh premium buatan Indonesia banyak diekspor ke luar negeri, karena pasar di negeri sendiri tidak mendukung. Foto: Ist
Master Tea Blender, Bambang Laresolo mengungkapkan, teh premium buatan Indonesia banyak diekspor ke luar negeri, karena pasar di negeri sendiri tidak mendukung. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Melihat perjalanannya hingga saat ini, teh produksi Indonesia belum bisa dibilang merdeka.

Beberapa jenis teh dari luar negeri mengambil posisi sebagai produk teh yang digemari sebagian masyarakat.

Master Tea Blender, Bambang Laresolo mengungkapkan, teh premium buatan Indonesia banyak diekspor ke luar negeri, karena pasar di negeri sendiri tidak mendukung.

Masyarakat selama ini justru lebih memilih mengonsumsi teh berkualitas rendah.

Alumnus Fakultas Non Gelar Ekonomi UGM itu mengungkapkan, ada tiga karakter pasar teh Indonesia.

Baca juga: Strategi Rakimin Menjaga Ketahanan Pangan Nasional Lewat Bisnis Tanaman Benih

Pertama, urban pop, pasar ini didominasi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah dan para pekerja dengan mobilitas tinggi.

“Mereka adalah peminum teh yang maunya praktis. Bisa minum teh di mana saja termasuk dinikmati di rumah.”

“Nah, ini merupakan pasarnya teh celup dan teh Ready To Drink (RTD), “ungkapnya dalam acara KAGAMA Ngeteh Merdeka: Memerdekakan Teh Indonesia beberapa waktu lalu secara daring.

Kedua, pasar lifestyle, merupakan pasar yang berisi kalangan menengah ke atas. Untuk jenis-jenis tehnya, masih didominasi oleh teh-teh impor.

Teh utuh maupun olahannya, biasa ditemui di kafe-kafe. Salah satu kesalahan industri teh Indonesia adalah tidak digarapnya pasar lifestyle ini.

Baca juga: Kiat Membangun Bisnis Bagi Pemula, Laba Jangan Langsung Dihabiskan