Bagi Rimbawan KAGAMA Ini, Bukan New Normal yang Dibutuhkan Bumi

498
Rimbawan KAGAMA dan Ketua Umum Yayasan Peduli Hutan Indonesia, Transtoto Handadhari, punya pandangan lain soal apa yang mesti dilakukan pasca Covid-19. Foto: Dok Pri
Rimbawan KAGAMA dan Ketua Umum Yayasan Peduli Hutan Indonesia, Transtoto Handadhari, punya pandangan lain soal apa yang mesti dilakukan pasca Covid-19. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Gaung New Normal alias Kenormalan Baru tengah diperbincangkan seantero negeri.

Istilah ini mengemuka sejak pertengahan Mei lalu. Yakni ketika grafik penyebaran Covid-19 di Indonesia menunjukan grafik stabil dan ada indikasi dapat dikendalikan.

Melalui Normal Baru, masyarakat akan menjalani kehidupan seperti biasa.

Berkaitan dengan hal ini, Presiden Joko Widodo pun menyebut inilah saatnya masyarakat bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

Hal itu dituturkan Jokowi di Istana Merdeka pada Kamis (7/5/2020) lalu.

Baca juga: Ketua KAGAMA Pemalang Merasa Bangga Pernah Kuliah di Universitas Ndeso

Namun demikian, Dr. Transtoto Handadhari melihat konsep New Normal masih menjadi perdebatan politik.

Alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1971 itu menilai, New Normal memang punya tujuan baik.

Yakni membuka isolasi ekonomi, pasar, perkantoran, dan aktivitas publik.

Alasannya, masyarakat tentu juga butuh makan untuk menunjang kelangsungan hidupnya.

Akan tetapi, ada hal yang membuat Transtoto masih sangsi dengan konsep tersebut.

Baca juga: Pendidikan dan Regulasi Kunci Penting Lawan Pelanggaran Etika Bisnis di Era Digital