Bagaimana Perasaan Orang yang Terbukti Melakukan Korupsi?

146
Segala tindakan menyimpang selalu memiliki imbas pada keadaan psikologis seseorang. Termasuk tindakan korupsi. Foto: Antara. lustrasi: Bupati Sidoarjo ditahan KPK.
Segala tindakan menyimpang selalu memiliki imbas pada keadaan psikologis seseorang. Termasuk tindakan korupsi. Foto: Antara. lustrasi: Bupati Sidoarjo ditahan KPK.

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Dari hari ke hari, tindakan korupsi di Indonesia seperti tidak kunjung berhenti.

Ketika satu kasus dapat diselesaikan di suatu lembaga, muncul problem lain di tempat lain.

Salah satu hal yang melandasi seorang oknum melakukan tindakan korupsi adalah alasan ekonomi.

Seorang pakar menyebut praktik korupsi dekat dengan pencurian dan penggelapan pajak negara.

Oleh karena itu, korupsi diklaim lebih kerap terjadi di negara berkembang.

Di satu sisi, korupsi jelas mesti dibasmi karena memiliki imbas yang buruk bagi perekonomian negara.

Namun, di sisi lain, pembasmian tidak hanya untuk mengakhiri tindak korupsi.

Baca juga: Laporan Terkini Aksi Kagama Peduli Banjir, Galang Dana sampai Rp127 Juta

Namun, kata seorang pakar, pembasmian korupsi juga demi menciptakan pemerintah menjadi lebih efektif, efisien dan adil.

Hanya saja, upaya-upaya pemberian hukuman yang dilakukan pemerintah dinilai belum bisa menghentikan budaya tindakan negatif yang satu ini.

Apa sebabnya? Ternyata, sebagian orang menganggap bahwa korupsi adalah sesuatu yang dianggap lumrah dan dapat ditoleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, sebagian orang tidak lagi malu berkorupsi.

Fenomena ini lantas mendapatkan perhatian dari Nadiatus Salama.

Nadia, yang gundah, berusaha mengungkap sebenarnya bagaimana perasaan seseorang pasca melakukan tindak korupsi.

Dia mencari tahu jawabannya melalui  penelitian dengan judul Motif dan Proses Psikologis Korupsi.

Baca juga: Apa Saja yang Dirasakan Anak Ketika Melihat Orang Tuanya Bertengkar?