Bagaimana Cara Sedekah Mampu Mengubah Taraf Hidup Manusia?

85
KAFEGAMA DIY menggelar kajian bertema Manajemen Belanja, Menabung, Zakat, Infaq, dan Sodaqoh. Foto:Ist
KAFEGAMA DIY menggelar kajian bertema Manajemen Belanja, Menabung, Zakat, Infaq, dan Sodaqoh. Foto:Ist

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Bulan Puasa merupakan momentum bagi umat Islam untuk menebar kebaikan.

Apalagi, dunia saat ini memang sedang dalam keadaan terpuruk lantaran imbas dari wabah virus corona.

Dalam hal ini, roda perekonomian masyarakat mengalami perlambatan. Banyak di antara mereka kehilangan pekerjaan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Karena itu, uluran tangan berupa sedekah kepada yang mengalami kesusahan benar-benar sangat dibutuhkan.

Fenomena inilah yang melatarbelakangi KAFEGAMA (Keluarga Alumni FEB UGM) DIY menggelar kajian pada Sabtu (9/5/2020) lalu.

Tema kajian yang diangkat adalah Manajemen Belanja, Menabung, Zakat, dan Sodaqoh.

Bagi Muhammad Edhie Purnawan, perwujudan rasa syukur atas harta yang dimiliki salah satunya dengan bersedekah.

Baca juga: Masyarakat Perlu Berhati-hati Mengonsumsi Suplemen

“Tidak ada orang yang bersedekah malah bangkrut,” ujar Edhie.

“Orang yang gemar bersedekah tidak akan pernah menjadi miskin, begitu pun hamba Allah yang dermawan,” jelas Ketua KAFEGAMA 86 ini.

Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia ini menjelaskan, dalam logika ekonomi, sedekah artinya mengurangi rezeki yang dimiliki seseorang.

Namun, kata Edhie, dalam logika iman, seluruh rezeki berasal dari Sang Maha Pemberi.

Sehingga, seberapa pun yang dikeluarkan, Tuhan akan menggantinya.

Namun demikian, salah satu audiens bertanya mengapa sedekah, dalam format zakat, belum bisa mengangkat masyarakat miskin ke level ekonomi mampu.

Terkait hal ini, Mohammad Bekti Hendrie Anto mencoba memberikan pandangannya.

Baca juga: Memori Berkesan Rildo Ananda Anwar di UGM: Tiduran di Bawah Pohon Sambil Menunggu Buka Puasa