Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

250

Baca juga: Cara Mahasiswa Papua Beradaptasi di Jogja

Sebagai tindak lanjut kedatangan Presiden Jokowi ke daerah ini tahun lalu, pemerintah pusat kini juga memberi bantuan pembangunan jalan konstruksi beton. Juga dibangun jembatan gantung dengan konstruksi yang lebih kuat. Masyarakat setempat menamai jalan cor beton dan jembatan baja tersebut sebagai jalan dan jembatan Jokowi.

Geliat kehidupan ekonomi warga terlihat jelas dari ramainya pasar tradisional yang berlokasi tak jauh dari alun-alun Agats yang juga terbuat dari panggung kayu.

Di tengah segala keterbatasan, lima tahun terakhir ini Pemda terus bekerja keras membangun fasilitas pelayanan umum: rumah sakit, pasar, pembangkit listrik, sumur bor, pelabuhan, bandara, dan sebagainya.

Rumah Sakit, siap melayani masyarakat Asmat. Foto: Bambang
Rumah Sakit, siap melayani masyarakat Asmat. Foto: Bambang

Panggung Budaya Indonesia

Sepulang dari Asmat saya menyempatkan diri untuk mendiskusikan kondisi daerah ini dengan Menteri Sekretaris Negara. Sejak puluhan tahun lalu beliau mempunyai pehatian dan kepedulian yang sangat besar terhadap Papua.

Sebagaimana diskusi-diskusi sebelumnya, dalam merespon kegairahan pembangunan Papua biasanya kami mencoba melihat persoalan ini dalam perspektif yang lebih luas. Apa urgensi percepatan pembangunan daerah ini untuk masyarakat setempat? Apa urgensi dan relevansinya untuk pengembangan ekonomi daerah lain di sekitarnya?

Sebagai salah satu tujuan wisata dunia, setiap tahun beberapa kapal besar membawa turis asing mengunjungi Asmat. Ada potensi wisata budaya yang sangat besar, tetapi juga ada masalah terkait keimigrasian, kesiapan akomodasi dan infrastruktur pariwisata lainnya.

Jika pemda Asmat hendak membangun dan menata ulang kota kecil Agats menjadi ibu kota kabupaten dengan segala sarana dan prasarananya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Baca juga: KAGAMA Papua Barat Gelar Bakti Sosial, Kirim 16 Dokter Spesialis ke Daerah

Pertama, harus dipastikan bahwa yang akan dibangun bukanlah sekadar kantor-kantor pemerintah sebagai fasilitas untuk pejabat dan pegawai pemda. Yang dibutuhkan adalah pembangunan pusat pelayanan masyarakat, bukan pusat pemerintahan.

Kedua, pembangunan pusat pelayanan masyarakat ini hendaknya disinergikan dengan karakter Asmat sebagai salah satu tujuan wisata budaya. Asmat harus bisa membangun dirinya menjadi panggung budaya Indonesia di Papua.

Ketiga, pembangunan kota kecil Agats sebagai pusat pelayanan masyarakat hendaknya memberi kontribusi yang signifikan terhadap pekembangan ekonomi daerah. Jangan sampai kemajuan daerah hanya terfokus di Agats sebagai ibu kota kabupaten.

Pembangunan Agats semestinya menjadi simpul konektivitas infrastruktur perekonomian dan pelayanan publik ke semua Distrik (kecamatan) yang ada di kabupaten ini.

Reservoir penampungan air hujan untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat. Foto: Bambang
Reservoir penampungan air hujan untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat. Foto: Bambang

Baca juga: UGM Kirim Tenaga Pendidik ke Kabupaten Mappi, Papua

Keempat, pembangunan dan kemajuan Asmat adalah bagian dari upaya membuka urat nadi perekonomian yang semakin lancar untuk daerah sekitar, khususnya Mappi, Yahukimo, Nduga, dan wilayah pedalaman Mimika.

Kelima dan yang terpenting, pembangunan kota Agats dan Asmat secara umum harus diorientasikan pada meningkatnya derajat kehidupan masyarakat. Indikator sederhana untuk mengukurnya yaitu; semakin baiknya perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan kohesivitas sosial budaya masyarakat.

Semoga Bupati dan segenap pejabat di Asmat bisa mewujudkan hal ini.*

Baca juga: Ganjar Pranowo Lantik Pengurus KAGAMA Papua Barat