Asmat, Panggung Budaya Indonesia di Papua

250

Baca juga: Dilema Pendidikan Papua

Ada suasana dan eksotisme baru ketika kami memasuki jantung kota Agats dengan beriringan mengendarai sepeda motor listrik. Kami melintas di atas jalan yang seperti jembatan kayu panjang, melewati rumah-rumah warga, kios-kios, penginapan-hotel, pasar, dan kantor-kantor; yang semua dibangun dalam konstruksi rumah panggung.

Di jalan kayu selebar 2,5 meter ini warga masyarakat juga berseliweran dengan motor listriknya. Tanpa bising suara, tanpa bau asap, tanpa polusi karbon monoksida.

Bupati pun menaiki sepeda motor listrik seperti kami dan semua pejabat lain. Kita tidak bisa menemukan satu mobil pun di kota Agats. Sesungguhnya, kecuali untuk angkutan bahan bangunan skala besar, mobil tidak benar-benar dibutuhkan di Agats yang wilayahnya kira-kira hanya seluas kampus Universitas Gadjah Mada di Bulaksumur.

Dua hari di Agats, kami diajak Bupati melihat langsung sudut-sudut kota di atas rawa ini. Berbeda dengan kebanyakan pejabat dan Bupati lain di Papua, Bupati Asmat bisa dengan santai berkeliling dan membaur langsung dengan masyarakat tanpa canggung.

Jembatan Jokowi. Foto: Bambang
Jembatan Jokowi. Foto: Bambang

Baca juga: Pertengahan Tahun ini, Internet Berkecepatan Tinggi Akan Sampai ke Papua

Tanpa pengawalan apapun. Tak ada ajudan, tak ada Satpol PP, apalagi tentara atau polisi bersenjata. Santai. Rileks.

Dalam dua hari beliau mengajak kami untuk secara langsung merasakan denyut kehidupan masyarakat Agats. Menyaksikan apa yang sudah, sedang, dan akan dibangun di Agats khususnya dan Asmat pada umumnya.

Jalan dan Jembatan Jokowi

Dilihat dari udara, Agats mirip sebuah tempelan kotak-kotak puzle yang membentuk hamparan kota kecil yang padat. Jalan-jalan yang hanya berjarak sangat pendek menjadi garis pembatas antara satu kotak dengan kotak lainnya.

Kantor-kantor pemda berada di sela-sela perumahan warga. Demikian juga rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas pelayanan masyarakat lain; menyatu dalam kehangatan lingkungan yang sayangnya mulai berubah menjadi kotor dan kumuh.

Sampah sampah plastik berserakan. Sanitasi dan MCK kurang mendapat perhatian. Kesehatan lingkungan menjadi masalah serius.

Salah satu masalah serius yang dihadapi masyarakat Asmat adalah ketiadaan sumber air bersih. Dengan bantuan dana APBN, kini di Agats sudah dibangun 4 reservoir besar yang masing-masing mampu menampung 10 ribu meter kubik air hujan untuk diolah dan dialirkan untuk kebutuhan warga.

Baca juga: Bupati Fakfak Raih Doktor di UGM, Bahas Pendidikan di Papua