Asef Saeful Anwar : PSK Bagian Sejarah Sastra Indonesia

41

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Gerakan Persada Studi Klub (PSK) pada kurun 1967 hingga 1975 di Malioboro, Yogyakarta akan menggerakkan sastra Indonesia di masa mendatang. Khususnya, pascapenerbitan buku “Metiyem : Pisungsung Agung untuk Umbu Landu Paranggi” yang tidak diperdagangkan.
“Buku ini sudah mampu menggerakkan sastra Indonesia di masa mendatang. Dengan membatasi peredaran buku, ini menarik. Karena, orang yang ingin membaca buku ini adalah yang sungguh-sungguh. Orang akan ke sini (Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib – red), menemui orang yang ada di buku ini,” cetus Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM Asef Saeful Anwar, Rabu (31/7/2019) malam di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta.
Asef yang juga sastrawan asal Cirebon, Jawa Barat mengungkap hal itu saat menjadi narasumber launching buku Metiyem : Pisungsung Agung untuk Umbu Landu Paranggi. Turut meramaikan acara antara lain musikalisasi puisi-puisi Umbu dari Nalte Manalte, Nan Ki Nun, Tan Lioe Ie serta pembacaan puisi-puisi Umbu oleh sejumlah sastrawan dan aktor teater, antara lain Bram Makahekum, Dedet Setiadi, Syam Chandra Mantik, Dhenok Christanti, Luwi Darto, dan lainnya.
“Buku ini penting sekali diterbitkan karena bagian dari sejarah Indonesia. Untuk sastra juga sangat penting. Tesis saya menguraikan perjalanan PSK, beberapa figur di PSK. Saya lebih menuliskan apa yang diberikan PSK terhadap sosok-sosok yang sekarang menjadi tokoh sastra,” urainya.
Di sisi lain, lanjut Asef, terungkap wacana tentang pemikiran Umbu selalu terpinggir. Karenanya, dengan penerbitan buku tersebut, dapat mengubah persepsi dan mengakomodasi pemikiran Umbu. (Toto)