Aplikasi RiTX Bertani Karya Dosen UGM Raih Penghargaan Asia Smart App

35
Bayu Dwi Apri Nugroho, PhD (kedua dari kanan) meraih “Certificate of Merit” dalam ajang Asia Smart App Awards 2019 Hong Kong berkat inovasi aplikasi RiTx Bertani yang berguna membantu petani dalam bercocok tanam. Foto : Humas UGM
Bayu Dwi Apri Nugroho, PhD (kedua dari kanan) meraih “Certificate of Merit” dalam ajang Asia Smart App Awards 2019 Hong Kong berkat inovasi aplikasi RiTx Bertani yang berguna membantu petani dalam bercocok tanam. Foto : Humas UGM

KAGAMA.CO, HONG KONG – Aplikasi teknologi pertanian RiTx Bertani besutan Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, PhD berhasil meraih “Certificate of Merit” dalam ajang Asia Smart App Awards 2019 Hong Kong yang digelar Cyberport 3 Hongkong, Kamis (20/6/2019).

RiTx Bertani yang dikembangkan Bayu bersama dengan tim dari PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) meraih penghargaan dari kategori Public Sector Distinction.

Penghargaan kategori ini diberikan kepada pengembang dengan aplikasi yang memberikan solusi terhadap persoalan publik dan mampu memberikan dampak sosial bagi masyarakat luas.

Bayu menjelaskan RiTx Bertani merupakan aplikasi berbasis android yang digunakan petani untuk melakukan pencatatan kegiatan bertani.

Pencatatan kegiatan bertani ini penting untuk memastikan petani menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).

GAP sendiri merupakan praktik budidaya tanaman yang baik, benar, dan tepat mulai dari persiapan sebelum masa tanam hingga penanganan produk pascapanen.

Penerapan GAP memastikan prinsip telusur balik (traceability) terhadap produk hasil panen dapat tercapai.

Hal ini menjamin keamanan produk hasil panen tersebut untuk dikonsumsi.

“Berbasis Internet of Things (IoT), RiTx Bertani juga terintegrasi dengan teknologi sensor tanah dan cuaca yang terpasang di lahan,” tuturnya dalam rilis yang diterima pada Jumat (21/6/2019).

Menurutnya, melalui data yang terekam, petani akan langsung mendapatkan rekomendasi kegiatan bertani yang lebih presisi melalui aplikasi.

Bayu menyebutkan ketidaktahuan petani akan pentingnya menjaga kelestarian jangka panjang menjadi salah satu persoalan krusial di sektor pertanian.

Petani sering kali menggunakan pupuk dan pestisida berlebihan dalam kegiatan bertani.

“Dengan pertanian cerdas seperti ini tentunya tak hanya membantu petani, namun juga memastikan kegiatan petani di lahan tidak merusak lingkungan,” ucap Bayu.

Asia Smart App Awards merupakan ajang penghargaan yang diberikan oleh Hong Kong Wireless Technology Industry Association (WTIA) kepada para pelaku inovasi aplikasi unggulan di berbagai platform. (Humas UGM/Ika)