Apa yang Unik dari Nitilaku Virtual Tahun Kembar?

201

Baca juga: Cerita di Balik Jenggot Ganjar Pranowo

Di tahun-tahun sebelumnya, Nitilaku dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni budaya di sejumlah panggung yang didirikan di sepanjang jalan menuju Balairung UGM, dan diikuti oleh ribuan peserta dari kalangan sivitas UGM, alumni, maupun masyarakat umum.

Pada tahun ini pawai, pertunjukan seni budaya, dan interaksi antar peserta akan dilakukan secara virtual.

“KAGAMA di berbagai daerah akan terlibat dalam Nitilaku melalui video yang akan ditampilkan pada rangkaian pawai virtual,” kata Iqbal.

Tantangan penyelenggaraan Nitilaku secara virtual, kata Iqbal, adalah dalam menyiapkan konsep serta konten dari pawai virtual agar tetap menarik untuk diikuti.
Untuk itu, sejumlah seniman pun dilibatkan untuk merancang dan menyiapkan set digital.

“Konten-konten ini sudah mulai disiapkan, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” imbuhnya.

Baca juga: Perjalanan Gabriel Asem Membangun Tambrauw yang Awalnya Hanya Berupa Perbukitan dan Pantai

Meski diselenggarakan dengan konsep yang berbeda, Nitilaku 2020 dirancang untuk tetap dapat menghadirkan bentuk sinergi 5K, yaitu Kampus, Keraton, Kampung, Komunitas, dan Korporasi dalam kerangka kebinekaan.

Sinergi 5K akan hadir sebagai elemen acara Nitilaku, tidak semata-mata sebagai bentuk nostalgia.

Tetapi, kata Iqbal, agar setiap peserta dapat mengambil inspirasi dari sinergi tersebut sebagai modal sosial yang tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan di masa kini dan masa depan, terutama tantangan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Nitilaku kali ini diselenggarakan dengan semangat untuk mengambil nilai positif dari apa yang kita alami dengan pandemi ini menjadi modal sosial untuk masa saat ini dan masa yang akan datang,” kata Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. (Th)

Baca juga: Produk Merchandise Kafegama DIY Diluncurkan, Hasil Penjualan untuk Kegiatan Sosial