Apa Saja Kunci Penting Memajukan Petani dan UMKM di Kawasan Lahan Gambut?

157

Baca juga: Berawal dari Gubuk Kecil di Kantin Fapet UGM, Bisnis Es Krim Mirza Kini Sudah Menggandeng 50 Restoran

Fajar mengajak para pelaku bisnis untuk mengubah fix mindset menjadi growth mindset.

Fix mindset kata Fajar, hanya akan membawa pelaku bisnis dalam pemikiran yang kaku dan berkeras diri untuk membenarkan keyakinan yang dimiliki.

Padahal, sejatinya seorang pelaku bisnis haruslah mempunyai growth mindset.

Artinya memiliki kemampuan untuk menerima banyak masukan dan wawasan baru, serta mampu memformulasikannya dengan baik dan menjalankan segala risiko yang dihadapi.

Dalam bisnis yang sedang ditekuninya, Fajar mengembangkan handicraft dari kelapa, nanas, enceng gondok, dan tanaman apapun yang tumbuh di lahan gambut.

Baca juga: Dampak yang Terjadi Pada Masyarakat Akibat Perubahan Regulasi Penanganan Covid-19

Termasuk biji-biji karet dengan biji bintaro, yang juga dimanfaatkan untuk membuat model pakaian serat seperti tenun.

“Ada beberapa komoditas lahan gambut yang berpotensi dikembangkan di Riau. Seperti kopi liberika, sagu, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, pangan, tanaman pangan, tanaman buah, tanaman obat, nanas, dan keripik.”

“Lahan juga dikembangkan untuk peternakan terpadu, perkebunan, dan pariwisata terpadu. Jadi, sebetulnya ada diversifikasi komoditas dari lahan gambut,” ungkap alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999.

Fajar telah mengakomodir 400 ratusan UMKM dan ribuan petani.

Dia berusaha menjembatani mereka untuk mendapatkan potensi marketplace, serta memberikan kesempatan orang-orang disekitarnya untuk menjadi sociopreneur.

Baca juga: Cara yang Dipakai Rohidin Mersyah untuk Tingkatkan Harga Sawit Petani Bengkulu