Antropolog UGM: Wabah Corona adalah Jendela Pembuka Masalah Sistem Sosial di Indonesia

4701
Dosen Antropologi UGM, Dr. Pujo Semedi, memandang sisi lain dari wabah virus corona yang menjangkiti Indonesia. Foto: FIB UGM
Dosen Antropologi UGM, Dr. Pujo Semedi, memandang sisi lain dari wabah virus corona yang menjangkiti Indonesia. Foto: FIB UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Berbagai pembiasaan baru muncul sejak wabah virus corona melanda dunia.

Seperti pembatasan fisik dan pembatasan sosial, yang digemakan agar infeksi penyakit Covid-19 tidak meluas.

Nyatanya, macam-macam pembiasaan tersebut memunculkan pemaknaan baru dalam budaya interaksi manusia sebagai makhluk sosial.

Jika dilihat melalui kaca mata Jawa, orang terbiasa hidup secara solider dalam suasana guyub rukun.

Dosen Antropologi UGM, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, melihat guyub rukun sebagai pranata penyelesaian persoalan individu secara kolektif.

Baca juga: Dosen Pertanian UGM Ungkap Strategi Ketahanan Pangan di Masa Krisis Covid-19

Perihal itu disampaikan Pujo dalam webinar bertema Mendefinisikan Ulang Makna Keguyuban Sosial dan Religi, beberapa waktu lalu.

Menurut Pujo, Guyub berarti bekerja sama dengan akrab. Sementara rukun bermakna toleran terhadap perbedaan.

“Guyub rukun adalah resprositas (hubungan saling membeli dari dua belah pihak) seimbang di tengah masyarakat,” tutur Pujo.

“Yakni ketika warga bertukar barang dan jasa dengan imbalan setara, walaupun pengembaliannya sering tidak segera,” terang dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM periode 2012-2017 ini.

Pujo menilai, reprositas seimbang dibangun di atas rasa percaya. Yakni percaya bahwa orang yang menerima akan mengembalikan.

Baca juga: Cerita Ketua KAGAMA Jatim, Mahasiswa Abadi yang Jadikan Ijazahnya sebagai Jaminan Utang