KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Di tengah kesibukan kerja sebagai Menteri Sekretaris Negara, Prof. Dr. Pratikno, M. Soc., Sc menyempatkan waktunya untuk sharing bersama civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (25/1/2018) di Hotel Santika Yogyakarta. Hadir dalam forum itu para dekan, dosen, dan mahasiswa serta alumni UGM.

Pratikno mempresentasikan topik yang baru hangat dan belakangan menguat menjadi pembicaraan masyarakat, yakni terminologi disrupsi.  Topik yang dipresentasikan berjudul  University Graduate 5.0 : Powerful Agile Learner.

Ide tersebut, lanjut Pratikno, bertolak dari adanya perkembangan teknologi yang sangat signifikan dalam dua dekade. Gagasan tersebut, meski masih hipotetis, tapi harus diantisipasi karena cepat atau lambat, proses disrupsi bisa memengaruhi kehidupan yang sudah mapan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, muncul terminologi disruption, dalam teknologi, inovasinya. Tapi, yang saya sampaikan, perkembangan inovasi teknologi sangat besar pengaruhnya terhadap tata kuasa yang perlu ktia redefinisi lagi, terutama dalam strategi pendidikan tinggi,” ucap Pratikno yang disampaikan dengan santai dan penuh kelakar.

Para dekan, dosen, alumni, dan mahasiswa UGM mengikuti presentasi dari Prof Dr Pratikno, M Soc, Sc di Ruang Sekar Jagad Hotel Santika Yogyakarta [Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA]
Para dekan, dosen, alumni, dan mahasiswa UGM mengikuti presentasi dari Prof Dr Pratikno, M Soc, Sc di Ruang Sekar Jagad Hotel Santika Yogyakarta [Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA]
Dijelaskan Pratikno, kemunculan gagasannya sebagai respons dari terminologi Revolusi Industri 4.0 yang berbasis digitalisasi, computing power, dan data analytics. Kemudian diekspresikan dalam bentuk fisicaly technology dan cyber technology. Perubahan teknologi tersebut berakibat banyak terjadi job lost (pengangguran baru) dan sebaliknya job gain (lapangan kerja baru). Di Indonesia, mengutip Mc. Kenzi, angka job lost mencapai 18% sebagai akibat perkembangan teknologi berbasis digitalisasi.

Dalam lingkup akademik, Pratikno mengajak koleganya di Kampus Biru, untuk bersiap-siap mengantisipasi implikasi dari gelombang revolusi industri berbasis digitalisasi. Salah satu kemungkinan adalah membuka satu fakultas atau institusi alternatif, semisal departemen atau fakultas smart studies dengan kurikulum terintegrasi lintas fakultas dan departemen.

“Kita tak hanya butuh orang yang paham tentang Revolusi Industri 4.0 tapi bagaimana kita butuh pembelajar yang sangat cerdas, mencetak SDM (sumber daya manusia) yang powerful learner, yang bisa survive. Ekosistem harus dibangun. Empati tetap jadi basis,” ucapnya. [RTS]