Angkutan Jalur Laut Lebih Tangguh Hadapi Krisis

39
Staf Ahli Menteri Perhubungan, Cris Kuntadi membabar kondisi angkutan darat, laut dan udara di masa pandemi. Foto: Medcom
Staf Ahli Menteri Perhubungan, Cris Kuntadi membabar kondisi angkutan darat, laut dan udara di masa pandemi. Foto: Medcom

KAGAMA.CO, JAKARTA – Frekuensi angkutan logistik, transportasi, dan pergudangan mengalami penurunan signifikan 6,38 pada triwulan I.

Sebetulnya, tidak ada pembatasan sama sekali secara operasional. Tetapi, ternyata upaya tersebut tidak cukup mendongkrak frekuensi pengangkutan.

Staf Ahli Menteri Perhubungan, Cris Kuntadi mengungkapkan, di saat yang sama pihaknya juga masih dihadapkan pada pemerataan share angkutan logistik.

Truk dan tangki masih mendominasi jalur transportasi darat.

“Hal ini menimbulkan sejumlah masalah seperti kemacetan, konsumsi BBM bersubsidi yang lebih besar, serta potensi polusi dan kecelakaan yang tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Enam Langkah yang Harus Dilakukan Indonesia dalam Mengembangkan Energi Baru dan Terbarukan

Hal tersebut dia sampaikan dalam Seminar Daring Bussiness Leadership, bertajuk The New Era in Supply Chain and Logistic Industry, yang digelar KAFEGAMA MM, pada Sabtu (18/7/2020).

Sebagai negara yang menyandang status sebagai negara maritim, kata Cris, seharusnya share jalur transportasi laut bisa lebih besar dibanding daratan.

Apalagi jalur laut hanya sedikit terkena dampak Covid-19, sehingga bisa membantu mempertahankan bisnis dan industri logistik.

Menurutnya, perlu ada riset lebih dalam terkait kemungkinan share angkutan dari jalur darat ke laut bisa diperbesar.

Dalam masa peralihan sebelum hingga muncul pandemi Covid-19, terdapat sejumlah perubahan pada pergerakan angkutan logistik.

Baca juga: KAGAMA Gelanggang Qurban 2020, Siap Salurkan Kambing ke Masyarakat Lereng Merapi