Anak Tukang Angkut Sampah Bisa Kuliah di UGM

70
Alyza Firdaus Nabila bersama kedua orangtuanya, Nur Hayati dan Jumari, dan kakak kandungnya. Foto : Humas UGM
Alyza Firdaus Nabila bersama kedua orangtuanya, Nur Hayati dan Jumari, dan kakak kandungnya. Foto : Humas UGM

KAGAMA.CO, BANTUL – Jumari (58) berjalan mengambil kantong-kantong yang berisi sampah rumah tangga dari satu rumah ke rumah lain.

Kantong-kantong sampah itu lalu dimasukkanya ke dalam mobil pick up yang sudah terlihat usang.

Dengan mobil sewaan tersebut, dia dan putera sulungnya mengangkut sampah-sampah yang terkumpul dari rumah-rumah penduduk untuk di antarkan ke tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan, Yogyakarta.

Setiap dua hari sekali Jumari berkeliling mengambil sampah ke rumah rumah penduduk di wilayah Piyungan Yogyakarta.

Dari mengangkut sampah inilah asap dapur keluarganya bisa terus mengepul.

Dia telah melakoni pekerjaan itu selama 13 tahun terakhir.

Sebelumnya dia sempat menjadi sopir panggilan, namun dia terpaksa beralih profesi karena usia sudah tidak memungkinkannya untuk menjalani pekerjaan itu.

Namun siapa sangka anak bungsunya berhasil masuk kuliah di Fakultas Kehutanan UGM.

Puterinya yang bernama Alyza Firdaus Nabila diterima kuliah di UGM tanpa tes melalui jalur SNMPTN Undangan.

“Sangat bangga dan bersyukur, anak kami lyza bisa diterima kuliah di UGM.”

“Ini menjadi kebahagiaan tertinggi bagi keluarga kami,” ucapnya sembari menahan haru.

Sembari terus bercerita tentang perjuangan keluarganya dalam membesarkan anak, bulir-bulir air mata terlihat mulai menetes membasahi pipi Jumari.

Dia ingat betul bagaimana keluarganya pernah mengalami titik nadir dalam hidup.

Bahkan anak pertamanya terpaksa putus sekolah saat dibangku SMA karena tidak mampu membayar uang sekolah.

Karenanya dia tidak henti-henti mengucap syukur mengetahui Lyza bisa diterima di UGM.

Mengingat kondisi perekonomian yang pas-pasan Jumari tidak pernah berpikir anaknya akan bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi.

Dari pekerjaan angkut sampah dan usaha cuci pakaian yang dijalankan istrinya hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Rata-rata per bulannya dari angkut sampah dan usaha cucian sekitar Rp1,5 juta untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Namun melihat ketekunan sang anak dalam belajar dan melihat prestasi akademis yang baik dia yakin sang anak nantinya dapat memperoleh pendidikan yang layak.

“Benar-benar tidak membayangkan akhirnya Lyza bisa diterima kuliah di UGM,” tuturnya.

Jumari beserta isteri dan dua anaknya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil seluas 46 meter persegi di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY.

Rumah tempat tinggalnya sekaligus digunakan untuk menjalankan usaha cuci pakaian.

Saat memasuki ruangan langsung terlihat dua mesin cuci dan berbagai peralatan lainnya yang memenuhi hampir separuh rumah.

Lalu di sisi samping terdapat satu ruangan sempit yang berfungsi sebagai ruang serbaguna untuk tidur dan berkumpul.

Di ruang itu pula Alyza belajar menggunakan sebuah meja lipat yang dipenuhi tambalan isloasi di pinggirnya.

Sejak SD hingga saat ini meja usang itu selalu setia menemani Alyza belajar setiap harinya.

Lyza, begitu biasa dia disapa mengatakan sejak kecil ia telah memiliki keinginan untuk kuliah.

Karenanya dia berusaha untuk tekun belajar dan berpretasi.

Hasilnya dia selalu menduduki dua besar di bangku SD dan SMP, sementara di SMA dia selalui meraih pertama.

Berkat prestasinya itu dia pun berhasil masuk UGM tanpa tes dan saat ini mengajukan beasiswa Bidikmisi agar mendapat keringanan biaya pendidikan selama kuliah nantinya.

“Saya hanya terus belajar, berusaha dan berdoa. Jika ada kemauan pasti ada jalannya dan alhmadulilah akhirnya bisa diterima di UGM,” ucap alumni SMA 1 Sewon Bantul itu.

Dengan kuliah Lyza berharap nantinya bisa sukses dan mampu mengangkat kehidupan keluarganya.

Setelah berhasil nantinya dia ingin segera memberangkatkan orang tuanya hajin di tanah suci.

Nur Hayati (49) mengungkapkan bahwa Lyza merupakan anak yang tekun dalam belajar dan rajin beribadah.

Dia pun sangat bersyukur anak-anaknya memahami kondisi keluarga dan tidak pernah menutut macam-macam.

“Kami orang tuanya hanya bisa mendukung doa semoga nantinya Lyza bisa lancar kuliahnya dan menjadi orang berhasil serta berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara,”harapnya. (Humas UGM/Ika)