Alumnus FTP UGM Angkatan 1990 Ini Perjuangkan Kedelai Lokal Naik Kelas

196

Baca juga: Hal-hal yang Akan Dialami Sektor Pariwisata Selama New Normal

Kedelai nontransgenik harganya juga lebih tinggi daripada kedelai transgenik.

“Satu hektar lahan bisa dihasilkan 3-4 ton kedelai GMO (transgenik), sementara untuk kedelai Non-GMO hanya bisa dihasilkan 1,5-2 ton,” ujar Nurhayati.

“Perawatan secara organik tanpa rekayasa jelas akan butuh biaya lebih,” terang sosok kelahiran 1971 tersebut.

Karena itu, Nurhayati berusaha secerdas mungkin menjelaskan kepada calon konsumen dan calon resellernya. Yakni bahwa produknya lebih alami, lebih sehat, dan bebas pestisida.

Kendala yang dihadapi Nurhayati memang tidak sepele. Akan tetapi, dia mengaku tetap semangat dalam memperkenalkan produknnya yang berasal dari kedelai lokal.

Baca juga: Potensi Industri Ekonomi Kreatif Indonesia di Era Normal Baru

“Jika bukan kita, terus siapa lagi yang akan mengangkat kedelai lokal. Jadi boleh dikatakan usaha yang saya lakukan ada unsur nasionalismenya,” ujar Nurhayati.

“Saya sangat berharap akan semakin banyak perajin tempe yang mau mengolah kedelai lokal,” tegasnya, optimistis.

Ke depan, Nurhayati berencana membawa produknya dijual ke pasar internasional.

Hal itu menjadi mimpi lantaran pengembangan produk tempe kalengnya mampu tahan satu tahun.

Beberapa waktu lalu, dia juga sudah menjajaki peluang kerja sama dengan atase pertanian KBRI Washington. (Ts/-Th)

Baca juga: Harapan Jay UKM Bola Voli Jadi Wadah Belajar dan Membangun Toleransi