Alumnus FTP UGM Angkatan 1990 Ini Perjuangkan Kedelai Lokal Naik Kelas

196

Baca juga: Ganjar Ajak Masyarakat Gotong Royong Hadapi Krisis dari Desa

Untuk diketahui, Attempe tempe instan berupa kedelai dan ragi yang dikemas termasuk cara pembuatannya.

“Khusus tempe segar hanya dijual di wilayah Yogyakarta, karena tidak tahan lama,” tutur Nurhayati.

“Penjualannya lewat supermarket, catering, hotel,dan paling banyak justru di rumah sakit,” sambungnya.

Sementara itu, untuk kripik tempe dan tempe instan, kata Nurhayati, penjualannya meliputi sebagian besar wilayah Indonesia.

Keduanya dijual lewat teknik direct selling secara online dan lewat reseller.

Baca juga: Inovasi dan Solidaritas Sosial Kunci Hadapi Krisis

Nurhayati mengaku, dia menjanjikan banyak keuntungan buat para reseller untuk menarik minat menjadi rekanannya.

“Selama pandemi Covid-19, terjadi lonjakan tambahan reseller karena banyak orang butuh pekerjaan tambahan,” ucap Nurhayati.

Tentu saja di dalam perjalanan membangun usaha selalu ada kendala yang dihadapi.

Kata Nurhayati, kendala itu adalah harga produknya yang relatif lebih mahal ketimbang produk pabrikan lain.

Hal itu merupakan konsekuensi dari bahan bakunya yakni kedelai lokal nontransgenik.

Baca juga: Awal Tahun Depan Indonesia Siap Produksi Vaksin Covid-19 dalam Skala Besar