Alumnus FTP UGM Angkatan 1990 Ini Perjuangkan Kedelai Lokal Naik Kelas

196

Baca juga: Anwar Sanusi: Desa Inklusi Penting bagi Penguatan Desa

“Karena modalnya belum cukup besar waktu itu, saya baru bisa memproduksi kedelai untuk diolah menjadi tempe segar dalam kisaran 5 kg per hari,” tutur Nurhayati.

“Itu pun produksinya titip kepada teman yang punya pabrik tempe di daerah Bantul. Saya belum punya pabrik dan karyawan sendiri,” jelas alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM angkatan 1990 ini.

Dalam dua tahun pertama menekuni usahanya tersebut, Nurhayati juga mengumpulkan modal sedikit demi sedikit.

Modal itu dia wujudkan untuk membangun pabrik sendiri di daerah Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten.

Nurhayati akhirnya benar-benar memindahkan usahanya ke pabriknya sendiri pada pertengahan 2017.

Alumnus FTP UGM angkatan 1990, Nurhayati Nirmalasari, berbagi cerita mengenai upayanya dalam mengangkat kedelai lokal. Foto: Anshar Purnomo
Alumnus FTP UGM angkatan 1990, Nurhayati Nirmalasari, berbagi cerita mengenai upayanya dalam mengangkat kedelai lokal. Foto: Anshar Purnomo

Baca juga: Saran Hendri Saparini agar UMKM di Sumatera Utara Semakin Kuat

Wanita kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini mengatakan, produksi awal di pabrik baru mencapai 50 kg kedelai lokal per hari.

Kedelai didatangkan dari Kulonprogo, Klaten, Pati. Bahkan, kadang-kadang dari Malang. Tergantung daerah mana dulu yang sedang panen.

Pelan tapi pasti, kini pabrik milik Nurhayati mampu mengolah kedelai hampir 100 kg per hari. Jumlah itu setara dengan produksi 145 kg tempe basah.

Dari kapasitas produksi yang sekarang, dia mampu menghidupi lima karyawan tetap dan dua pegawai tidak tetap.

Seiring berjalannya waktu, usaha Nurhayati kini tak hanya memproduksi tempe segar. Namun, ada juga kripik tempe dan tempe instan dengan merk Attempe.

Baca juga: Alumnus Sekolah Pascasarjana UGM Angkatan 2010 Dipercaya Jadi Direktur Pengadaan Perum BULOG