Alumnus Filsafat UGM Ungkap Sejarah Integrasi Sains dan Filsafat dalam Menghadapi Pandemi

401
Meskipun tampak erat dengan ilmu sains, kata Sidqi, pandemi nyatanya juga banyak dibahas dalam dunia filsafat, terutama dalam filsafat sejarah Islam. Foto: Dok Pri
Meskipun tampak erat dengan ilmu sains, kata Sidqi, pandemi nyatanya juga banyak dibahas dalam dunia filsafat, terutama dalam filsafat sejarah Islam. Foto: Dok Pri

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pandemi sebelumnya sudah pernah terjadi berabad-abad lalu, yaitu sekitar abad ke-4 SM tepatnya pada masa peradaban Yunani Kuno.

Alumnus Fakultas Filsafat UGM angkatan 2006, Ahmad Sidqi, mengungkapkan bahwa pandemi yang terjadi saat itu berupa epidemi penyakit kulit sifilis.

Diceritakan olehnya, ketika itu perbudakan sangat kuat, termasuk perbudakan wanita.

Banyak tentara ‘berganti-ganti pasangan’, sehingga menimbulkan wabah penyakit sifilis.

Hal tersebut Sidqi sampaikan dalam seminar daring bertajuk Filsafat Merespon Pandemi, yang digelar oleh KAGAMA Filsafat, pada Sabtu (1/08/2020)

Baca juga: Kata Para Sahabat tentang Almarhumah Esti, Sesepuh KAGAMA Balikpapan yang Tegas dan Welas Asih

Meskipun tampak erat dengan ilmu sains, kata Sidqi, pandemi nyatanya juga banyak dibahas dalam dunia filsafat, terutama dalam filsafat sejarah Islam.

Pada zaman abad pertengahan di Persia, masyarakat menghadapi wabah penyakit kolera, yang kemudian mewabah hampir ke seluruh dunia.

“Pemerintah Persia saat itu memerintahkan kepada salah satu filsuf bernama Ibnu Sina. Filsuf ini diperintahkan untuk membuat riset tentang kolera dan antivirusnya,” jelasnya.

Dari hasil risetnya itu, kata Sidqi, Ibnu Sina merumuskan sebuah teori yang menyatakan bahwa kondisi darah bisa menjadi fasilitator berkembangnya virus-virus, termasuk virus kolera.

Bagi Sidqi, temuan ini menarik, karena telah menunjukkan bahwa terdapat integrasi antara ilmu sains dan filsafat untuk menghadapi pandemi.

Baca juga: Filsafat UGM Membuat Widyasari Listyowulan Belajar untuk Tidak Menyerah