Alumni UGM Undang Seluruh Masyarakat Indonesia dalam Deklarasi Permohonan Maaf Rimbawan

155
Para rimbawan UGM dalam rapat awal persiapan Deklarasi Nasional Rimbawan Sadar dan Peduli Hutan dan Lingkungan. Foto: Istimewa
Para rimbawan UGM dalam rapat awal persiapan Deklarasi Nasional Rimbawan Sadar dan Peduli Hutan dan Lingkungan. Foto: Istimewa

KAGAMA.CO, JAKARTA – Alumnus Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Ir. Transtoto Handadhari, M.Sc., mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dalam deklarasi permohonan maaf rimbawan Indonesia.

Kepada KAGAMA pada Minggu (10/11/2019) , Transtoto Handadhari mengatakan berencana menyelenggarakan Deklarasi Tekad Rimbawan Indonesia.

Kondisi hutan Indonesia saat ini menjadi alasan yang melatarbelakanginya membuat agenda ini.

Menurutnya, kerusakan hutan dan sumber daya hutan di Indonesia berawal dari aktivitas deforestasi masif pada 1970-1990-an.

Hal itu di mata pria kelahiran Yogyakarta ini membuat pemerintah masih kesulitan melakukan perbaikan hutan hingga saat ini.

Baca juga: Kisah Kerbau Vaksin Dokter Sardjito Menembus Perang Revolusi Kemerdekaan

Selaras dengan hal itu, Transtoto menganggap suara-suara negatif mengenai pengelolaan hutan dan SDH pun terus membahana.

Dia pun menilai, rimbawan adalah setiap orang yang memiliki hubungan kerja, usaha, perolehan nafkah, pendidikan, kecintaan, pengamat serta siapapun yang memiliki emosi dengan hutan, SDH dan lingkungan.

Oleh karena itu, dia mengajak seluruh elemen mulai dari pemerintah, pembuat kebijakan, aparat pengamanan, masyarakat, bahkan sampai masyarakat pendidik di perguruan tinggi serta para politikus

Secara spesifik, mantan Direktur Utama Perum Perhutani 2005-2008 ini juga mengajak Presiden RI, Kementerian LHK, Ketua Umum APHI Ketua Umum APKI, Ketua Umum GAPKI, Ketua umum APKINDO, Ketua Umum ASMINDO, Ketua Umum HIMKI, Ketua Umum PPAK, Ketua Umum MPI, Ketua DPR-RI, para Gubernur dan Bupati, para rimbawan, asosiasi pemanfaat hutan lainnya, LMDH/Masyarakat Umum, serta Media Massa, untuk menyukseskan agendanya.

Transtoto mengungkapkan, agenda Deklarasi Tekad Rimbawan Indonesia menurut rencana akan diselenggarakan sesegera mungkin.

Keseluruh elemen tersebut dipandang Transtoto harus mengakui dan ikut bertanggung jawab atas kegagalan menjaga, memanfaatkan, dan melestarikan kekayaan SDH, yang berfungsi sangat strategis sebagai sistem pendukung kehidupan seluruh umat (life supporting system).

Dia beharap melalui agenda Deklarasi Tekad Rimbawan Indonesia nanti, seluruh elemen dapat sadar dan memiliki tekad untuk kembali membangun hutan dan melestarikan SDH.

Untuk saat ini, Transtoto telah membentuk panitia yang beranggotakan 25 orang termasuk dirinya sendiri. (Tsalis)

Baca juga: Maryanto: Saya Satpam, Anak Nggak Boleh Jadi Satpam!