KAGAMA.CO, BERITA—Pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan (green economy) kiranya masih merupakan harapan di negeri yang kaya sumber daya alam ini. Namun demikian, praktik pembangunan ekonomi rendah karbon dan tidak merusak ekosistem, pembangunan yang tidak menyebabkan bencana alam, maupun terdegradasinya kekayaan biodiversitas masih sulit terwujud.

Demikian disampaikan Dr. Transtoto Handadhari, alumnus Kehutanan UGM pada acara Diskusi Nasional Kebangsaan dengan topik “Green Economy untuk Kesejahteraan Bangsa” pada Senin (25/06/2018) di Yogyakarta.

Praktik pembangunan ekonomi rendah karbon dan tidak merusak ekosistem, pembangunan yang tidak menyebabkan bencana alam, maupun terdegradasinya kekayaan biodiversitas masih sulit terwujud..(Foto: Dok. GNI-Berbangsa)
Praktik pembangunan ekonomi rendah karbon dan tidak merusak ekosistem, pembangunan yang tidak menyebabkan bencana alam, maupun terdegradasinya kekayaan biodiversitas masih sulit terwujud..(Foto: Dok. GNI-Berbangsa)

“Sebenarnya melalui berbagai kebijakan teknik, pemerintah sudah menetapkan langkah-langkah pengendalian. Misalnya dengan mewajibkan para pengusaha ekonomi menyusun dokumen-dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), maupun kebijakan monitoring, pengawasan, dan pemberian sanksi yang berat terhadap terjadinya pelanggaran atau perusakan lingkungan,” tambahnya.

Namun demikian, Transtoto menggarisbawahi bahwa efektivitas segala aturan tersebut nyaris belum dapat dirasakan. Apalagi bila indikatornya adalah kerusakan dan adanya bencana lingkungan yang relatif terus meluas dan meningkat.