Alumni UGM Penerima Beasiswa Diimbau Tingkatkan Kepedulian dan Membentuk Jejaring

152
CEO Tanoto Foundation, Dr. J. Satrijo Tanudjojo menuturkan, Tanoto Foundation adalah lembaga filantropi. Kami berusaha dengan apa yang kami kerjakan, bisa memberi dampak bagi masyarakat dan negara. Foto: Kinanthi
CEO Tanoto Foundation, Dr. J. Satrijo Tanudjojo menuturkan, Tanoto Foundation adalah lembaga filantropi. Kami berusaha dengan apa yang kami kerjakan, bisa memberi dampak bagi masyarakat dan negara. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Penerima beasiswa merupakan duta UGM yang dipercaya untuk membawa nama almamaternya ke kancah nasional hingga internasional.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Prof. Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M, dalam acara Temu Alumni Penerima Beasiswa, pada Sabtu (14/12/2019) di Grha Sabha Pramana.

Dia menjelaskan, mahasiswa tidak bisa dengan mudah menerima beasiswa.

Untuk mendapatkannya, ada proses seleksi yang cukup ketat.

“Jadi Saya bisa katakan teman-teman alumni di sini adalah well selected people,” ujar Paripurna.

Paripurna mengucapkan terima kasih, berkat teman-teman alumni, reputasi UGM bisa naik.

Melihat hasil pemeringkatan dari QS World University Ranking, sebelumnya berada di peringkat 550, kini sudah naik di peringkat 320.

Baca juga: Apa Itu Blockchain? Berikut Penjelasannya

Agar memiliki wadah untuk saling berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain, Paripurna menyarankan alumni untuk membuat sebuah jejaring.

Senada dengan harapan Paripurna, CEO Tanoto Foundation, Dr. J. Satrijo Tanudjojo menuturkan, penerima beasiswa sejatinya harus memiliki kepandaian, kepedulian, dan kebiasaan.

Kebiasaan dalam hal ini, memiliki karakter dan kepribadian yang baik.

“Tanoto Foundation adalah lembaga filantropi. Kami berusaha dengan apa yang kami kerjakan, bisa memberi dampak bagi masyarakat dan negara,” jelas Satrijo.

Alumnus Geofisika, Fakultas MIPA itu banyak belajar tentang nilai-nilai kepedulian di Tanoto Foundation.

Dia merasa prihatin dengan angka balita stunting di Indonesia pada awal 2019 lalu mencapai 30 persen.

Permasalahan ini dalam jangka panjang bisa menimbulkan kerugian ekonomi.

Baca juga: Indonesia Bersiap Tatap Era Blockchain, Apa Manfaatnya?