KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Aula Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM kembali diramaikan oleh alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, atau dulu dikenal sebagai Fakultas Sastra, Sabtu (17/2/2018) malam.  Alumni FIB UGM dari berbagai angkatan datang dalam rangka mengenang keberadaan Bonbin yang dulu sebagai kantin milik fakultas anak sastra.

Dengan acara bernama Bonbin Reborn, para alumni disuguhkan makanan dari pedagang khas Bonbin, seperti Yu Par. Bonbin Reborn sendiri sudah pernah dihadirkan tahun 2017 lalu. Tahun ini merupakan tahun kedua Bonbin Reborn diadakan.

Acara Bonbin Reborn 2 diawali dengan dagelan dari Ketoprak Lesung Sastra Budaya dengan lakon “Star The Last Jeki Wasted”.  Ketoprak ini dimainkan oleh mahasiswa FIB.  Lalu dilanjutkan dengan penampilan Sande Monink yang merupakan band mahasiswa dari alumni Fisipol.  Dilanjutkan Sastro Moeni Generasi 1 yang menjadi primadona acara ini.

Dalam Sasmoen Generasi 1 spesial ada Anang Batas yang hadir meramaikan suasana meski tanpa kehadiran drummer andalan Sasmoen Generasi 1.  Sasmoen Generasi 6 juga ikut ambil bagian dalam memeriahkan malam itu.  Seperti kita ketahui, Sasmoen merupakan band mahasiswa andalan milik FIB sejak tahun 1987.  Sehingga keberadaan Sasmoen, Bonbin dan FIB tidak dapat dipisahkan.

Sandalaras juga turut mengisi Bonbin Reborn 2.  Acara ini juga dipandu oleh alumni UGM. Sebut saja Dibyo Primus, yang merupakan alumnus Fisipol.  Lalu, ada Jabrik, Koes Bekonang, dan Bambang Gundul. Meski acara diadakan oleh alumni dan mahasiswa FIB, baik pengisi dan penontonnya bisa dari berbagai kalangan.  Seperti kata Ketua Panitia Bonbin Reborn 2, Marno “Bonbin memiliki kenangannya sendiri-sendiri bagi setiap orang.”

Selain sebagai pengisi, ada banyak alumni yang datang menonton dan menikmati sajian khas Bonbin.  Perbedaan yang mencolok antara Bonbin Reborn 1 dan 2 adalah tahun ini lebih banyak dihadiri oleh alumni dibanding mahasiswa aktif.

Bonbin merupakan kantin yang berada di samping Gedung C FIB antara FIB dan Psikologi.  Pemberian istilah Bonbin bermacam alasannya. Ada yang mengatakan merupakan singkatan dari “Kebon Bintang” karena perempuan FIB banyak yang cantik. Ada yang mengatakan karena Bonbin terlalu berantakan seperti kebun binatang.

Bonbin kini sudah tidak lagi berada di samping FIB. Keberadaannya sudah pindah ke sebelah Pusat Jajanan Lembah (Pujale).  Adapun pedagang yang masih aktif, seperti Yu Par, Mbak Ning, Bodong, Cithut, Yatno, Wiwik, dan Heru Penju masih setia membantu mahasiswa cluster sosial-hukum melawan rasa lapar.  Meski Bonbin tidak lagi sama, tapi pelanggan setianya masih ada. [Inglo Dewanti]