Salah satu hal yang diperjuangkan Gus Dur adalah kesetaraan perempuan.Banyak pemikiran Gus Dur tentang perempuan yang tidak hanya diterima tetapi juga diimplementasikan. Pemikiran itu seputar program pengarusutamaan gender (gender mainstreaming); penguatan hak dan kesehatan reproduksi (health and reproductive rights); reinterpretasi kitab kuning tentang posisi dan kedudukan perempuan; isu buruh migran dan perkawinan kontrak; kekerasan terhadap perempuan di rumah tangga (domestic violence); penguatan hak-hak seksual (sexuality rights); pendidikan politik bagi pemilih perempuan (voter education); penyusunan fiqh tentang aborsi, fiqh tentang perdagangan perempuan dan anak (trafficking on women and children), dan seterusnya.

“Gus Dur sebenarnya tidak membela perempuan. Beliau hanya memperjuangkan kemanusiaan. Dan, perempuan adalah bagian dari manusia,” lanjut Alissa.

Peserta Tahlil Kebangsaan memenuhi arena kegiatan di Laboratorium Agama Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta [Foto ISTIMEWA]
Peserta Tahlil Kebangsaan memenuhi arena kegiatan di Laboratorium Agama Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta [Foto ISTIMEWA]
Begitu pula dengan pembelaan Gus Dur terhadap Tionghoa. Dalam buku “Bapak Tionghoa Indonesia” Gus Dur dibahas sebagai “Bapak Tionghoa” karena beberapa alasan, yakni perjuangan Gus Dur dari sisi kewarganegaraan kelompok keturunan Tionghoa, keteladanan Gus Dur dalam memperlakukan kelompok keturunan Tionghoa.

“Begitu pun dengan masyarakat Tionghoa yang tidak mendapat keadilan, Gus Dur membelanya bukan karena mereka minoritas tapi karena mereka diperlakukan tidak adil,” jelas Alissa.

Alissa kemudian menutup acara peringatan Sewindu Haul Gus Dur dengan menyampaikan pesan bahwa mereka tidak sedang memuji-muji Gus Dur, sebab Gus Dur sebenarnya lebih suka ditertawakan ketimbang dipuji.

“Kita di sini untuk meneladani beliau,” tutup Alissa dalam testimoninya. [Ashilly Achidsti]