BULAKSUMUR, KAGAMA – Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M. Sc., Ph. D mengajak masyarakat, terutama umat muslim mewujudkan tujuan ibadah puasa dengan meningkatkan solidaritas sosial, gotong royong, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Demikian juga, kepada pemimpin nasional berpeluang merealisasikan kebijakan yang dikeluarkan dan dijadikan orientasi kepemimpinannya, berupa kebijakan yang memihak kepada rakyat dan kaum miskin atau dhuafa serta rentan. Upaya peningkatan pelayanan pendidikan inklusif serta kesejahteraan dengan kartu pintar dan kartu miskin harus terus dikuatkan, dan diperkuat dengan dana desa melalui peningkatan modal bagi kelompok masyarakat dalam memercepat pemberantasan kemiskinan.

Shalat Idul Fitri 1438 H, Minggu (25/6/2017) di Lapangan Pancasila (Lapangan Grha Sabha Pramana UGM dipimpin imam Muhammad Wardani, S Ag dengan khatib Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M. Sc., Ph. D (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Shalat Idul Fitri 1438 H, Minggu (25/6/2017) di Lapangan Pancasila (Lapangan Grha Sabha Pramana UGM), Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta dipimpin imam Muhammad Wardani, S Ag dengan khatib Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M. Sc., Ph. D (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

“Pemenuhan dasar untuk hidup bermartabat harus segera diwujudkan. Prinsip solidaritas sosial, gotong royong, saling membantu segera kita wujudkan.  Sistem jaminan sosial nasional yang diawali Jamkesmas, meski selama tiga tahun mengalami defisit, tapi harus diteruskan, dikuatkan, dan disempurnakan. Konsep yang kaya membantu yang miskin, konsep ta’awun, yang kuat membantu yang lemah, yang sehat membantu yang sakit, jika terapkan maka kesejahteraan tercapai lebih mudah,” ucap Ali Ghufron yang pernah menjabat Wakil Menteri Kesehatan.

Ali Ghufron menyampaikan khotbah Idul Fitri 1438 H, Minggu (25/6/2017) di lapangan Pancasila atau lapangan Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Alumnus Fakultas Kedokteran UGM Angkatan 1982 itu menyampaikan materi khutbah “Dengan Semangat Keberhasilan Puasa Kita Bangun Solidaritas Sosial dan Indonesia yang Lebih Baik”. Sebelumnya dilaksanakan ibadah shalat Idul Fitri berjamaah dengan imam Muhammad Wardani, S Ag.

Sebagaimana hakikat ibadah puasa untuk merasakan derita orang lain yang hidup lapar dan dahaga, Ali Ghufron mengajak  masyarakat, terutama umat muslim mewujudkan tujuan ibadah puasa dengan meningkatkan solidaritas sosial, gotong royong, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Sebagaimana hakikat ibadah puasa untuk merasakan derita orang lain yang hidup lapar dan dahaga, Ali Ghufron mengajak masyarakat, terutama umat muslim mewujudkan tujuan ibadah puasa dengan meningkatkan solidaritas sosial, gotong royong, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Ditambahkan Ghufron, indikasi keberhasilan puasa juga tercermin dalam penerapan pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebagaimana diajarkan Rasulullah hikmah berpuasa menjadikan tubuh dan jiwa sehat. Karena itu, diharapkan seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan dasar untuk bisa hidup layak bermartabat sebagai manusia. Maka setiap penduduk tidak hanya PNS yang memiliki jaminan kesehatan, pensiun, kecelakaan kerja, hari tua, dan kematian. Agar sustainabilitas sistem jaminan di Indonesia terus berlangsung dan tidak defisit jumlah penduduk miskin harus dikurangi  dengan cara sektor formal harus diperkuat dan juga dikurangi pengangguran, terutama pengangguran sarjana perguruan tinggi.

Diakui banyak sarjana yang menganggur dengan banyak faktor penyebabnya, antara lain tidak relevannya SDM Iptekdikti dengan sisi kebutuhan atau permintaan. Bahkan, yang mendapatkan pekerjaan pun kadang tidak sesuai dengan kuliah yang didalami bertahun-tahun.

Sebagai upaya solusi pendidikan, Kemenrisetdikti mengembangkan rencana induk pengembangan Iptekdikti agar prodi dan mahasiswa sesuai dengan yang dibutuhkan oleh negara dan pasar kerja (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Sebagai upaya solusi pendidikan, Kemenrisetdikti mengembangkan rencana induk pengembangan Iptekdikti agar prodi dan mahasiswa sesuai dengan yang dibutuhkan oleh negara dan pasar kerja (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Sebagai contoh 16% dari seluruh mahasiswa di Indonesia adalah Sarjana Teknik tapi kemudian yang  bekerja sesuai bidang keilmuannya hanya 46%, sisanya yang 54% bekerja tidak sesuai bidangnya.

Diharapkannya, untuk masa mendatang, program studi tidak seharusnya dibuka sesuai selera masing-masing, melainkan harus disesuaikan dengan prioritas pembangunan nasional. Untuk itu, Kemenristekdikti mengembangkan rencana induk pengembangam Iptekdikti agar prodi dan mahasiswa sesuai dengan yang dibutuhkan oleh negara dan pasar kerja. [rts]