Alasan Seminar Pra-Munas KAGAMA Digelar di Museum Ranggawarsita, Bukan di Hotel

132
Sekjend PP KAGAMA AAGN Ari Dwipayana mengajak para hadirin untuk belajar dari Pujangga Ranggawarsita. Foto: Taufiq
Sekjend PP KAGAMA AAGN Ari Dwipayana mengajak para hadirin untuk belajar dari Pujangga Ranggawarsita. Foto: Taufiq

KAGAMA.CO, SEMARANG – Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) menggelag Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Acara yang digelar pada Kamis (22/8/2019) ini bertempat di Museum Ranggawarsita, Jln. Abdul Rahman Saleh Nomar 1 Semarang, Jawa Tengah, dimulai pukul 09.30-13.00 WIB.

Seminar menghadirkan Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D. (Dekan Sekolah Vokasi UGM), Retno Listyarti (Mantan guru, Kepala sekolah, dan kini aktif sebagai Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia_KPAI), Gita Gutawa (Artis, entrepreneur yang menekuni bidang seni), dan Prof. Mahfud MD (Anggota Dewan Pengarah BPIP).

Seminar Nasional ini merupakan rangkaian pra-Musyawarah Nasional (Munas) KAGAMA ke-XIII pada 15-16 November di Bali.

Seminar bertajuk "Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0". Foto: Taufiq
Seminar bertajuk “Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”. Foto: Taufiq

Rangkaian seminar bakal diadakan di lima kota dan lima pulau (Medan, Balikpapan, Semarang, Manado, dan Bali) selama Agustus-November.

Sekretaris Jenderal PP KAGAMA, AAGN Ari Dwipayana dalam sambutannya mengatakan, tema ini dipilih lantaran pihaknya ingin menghimpun gagasan tentang bagaimana membangun sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.

Belajar dari Pujangga Ranggawarsita

Selain itu, Ari juga mengapresiasi seminar yang digelar di Museum Ranggawarsita.

Menurutnya, seringnya seminar digelar di hotel maupun universitas.

Namun kali ini spesial, Museum Ranggawarsita dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Seminar Nasional yang pertama.

Menurut Ari, pilihan ini tepat sekali. Museum bukan saja menampilkan kebanggaan masa lalu.

“Di museum ini, kita tidak hanya diajak mengenang kembali Pujangga Ranggawarsita, tapi juga karya-karyanya,” ujar Ari dalam sambutannya.

Ia melanjutkan, tidak ada bangsa yang maju tanpa punya sejarah di masa lalu. Dan Indonesia punya catatan sejarah yang besar.

“Di sini (museum-red) catatan itu tersimpan dengan baik, dan tugas kita adalah mempelajarinya dengan baik,” harapnya.

Ari memaparkan, Ranggawarsita tidak hanya memikirkan masa lalu, tapi juga masa depan.

Hal ini salah satunya termuat dalam salah satu karyanya yang berjudul Serat Kalatidha.

Ketika pujangga besar Surakarta itu hidup, di masanya juga terjadi perubahan secara luar biasa besar.

“Kita tahu ada kereta kuda di Jawa, di Eropa sudah ada kereta api. Sehingga saat kereta api hadir di Nusantara, justru menjadi hal menarik yang kita lihat. Sang Pujangga menghadapi perubahan zaman, termasuk yang terjadi saat itu. Ranggawarsita adalah pujangga yang hidup di mana perubahan itu terjadi,” tandasnya.

Keluar dari Jebakan Kutukan Sumber Daya Alam

Menurut Ari, sekarang ini kita juga berada di era dengan perubahan yang sangat cepat.

Revolusi ini dampaknya jutaan kali, kecepatannya luar biasa. Hal itu yang membuat kita berada di era disrupsi dengan lanskap ekonomi dan budaya yang berubah.

“Kita punya kekayaan dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Kekayaan alam, nikel, hutan, sesuatu yang mungkin saja tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Kita punya semua hal,” ungkapnya.

Tetapi, kata Ari, hal itu tidak akan berguna kalau kita tidak bisa melakukan pembangunan manusia. Pasalnya, itu semua memerlukan manusia unggul sebagai pengelola agar bisa menjadi kekuatan.

“Pembangunan manusia tidak hanya mendidik, punya daya pikir kritis, kemandirian, tapi kita juga punya SDM Indonesia yang sadar betul bahwa negaranya majemuk, dia hidup dalam keberagaman dan perbedaan,” kata Ari.

Ari berharap seminar ini dapat menelurkan pemikiran-pemikiran terbaik. Hal itu karena semangat yang diusung KAGAMA adalah sinergi dan kolaborasi.

“Kita harus bisa keluar dari jebakan kutukan Sumber Daya Alam, dan mulai membangun Sumber Daya Manusia, tapi kita harus punya konsensus bersama dari mana pembangunan SDM itu dilakukan. Itu konsensus kita bersama,” pungkas Ari.

Acara ini turut dihadiri antara antara lain oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga merupakan Ketua Umum PP KAGAMA, Ketua KAGAMA Jawa Tengah Suryo Banendro, dan Ketua Asosiasi Dosen dan Guru Vokasi Indonesia Prof. Dr. Susanto. (Taufiq Hakim)