Agrosociopreneur Jalan Terang untuk Kemajuan Pertanian dan Ketahanan Pangan

94

Baca juga: Kisah Sukses KAGAMA Faperta Angkatan 1979, Keluar dari Zona Nyaman dan Berpikir Besar Jadi Kunci

Mereka melibatkan sekitar seribu petani di Kabupaten Kulonprogo, DIY dan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Di Kulonprogo mereka menggunakan sistem kelembagaan kelompok wanita tani, sedangkan di Trenggalek dengaan sistem Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Ia memaparkan berbagai faktor yang menyebabkan petani di Kulonprogo dan Trenggalek mengalami kegagalan.

”Pertama, kegiatan pertanian yang mereka lakukan tidak menghasilkan produk lahan, skema multilavel tengkulak, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, dan tidak adanya pengolahan pasca panen,” pungkas Andhika.

Ia kemudian mengusulkan agar petani melakukan praktik pertanian yang ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk-pupuk yang bahannya berasal dari alam di lingkungan petani.

Baca juga: Tumbuhan Langka di Museum Biologi UGM Kaya Manfaat dan Nilai Filosofis

Untuk mewujudkan praktik pertanian yang berkelanjutan, Agradaya menggunakan solar greenhouse, fungsinya untuk mengeringkan hasil panen.

Berikutnya, Andhika bersama tim mendorong petani untuk mengolah hasil pertaniannya.

Dari sini, akan ada peningkatan nilai tambah untuk produk petani.

”Lewat Jambore Petani Muda ini, kami challenges teman-teman untuk menentukan permasalahan, kemudian dikemas dalam bentuk bisnis,” ujarnya.

Agradaya dalam mengembangkan bisnis tidak hanya fokus pada uang, tetapi memperhatikan aspek sosial dan budaya.

Baca juga: Pendanaan Startup Berisiko, Pemerintah Perlu Tingkatkan Pengawasan