Agar Akademisi UGM Tidak Stres Lalu Bunuh Diri

58
Menurut Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng, Ph.D Dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, suasana mempengaruhi kenyamanan kerja akademisi, termasuk berpengaruh pada tingkat stres. Foto: Kinanthi
Menurut Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng, Ph.D Dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM, suasana mempengaruhi kenyamanan kerja akademisi, termasuk berpengaruh pada tingkat stres. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Stres yang dialami akademisi hingga berujung pada tindakan bunuh diri antara lain bisa dipicu oleh beban kerja yang sedang diterimanya.

Hal ini dibahas lebih jauh dalam Seminar “Self Harm dan Bunuh Diri di Kalangan Akademisi”, pada Minggu (13/10/2019) di Auditorium II FK-KMK UGM.

Acara ini menghadirkan narasumber Dr. dr. Carla Raymondalexas Marchira SpKJ (Ketua Departemen Psikiatri FK-KMK UGM) Dr. Bagus Riyono, MA (Dosen Fakultas Psikologi UGM) dan Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng, Ph.D Dosen Departemen Arsitektur dan Perencanaan UGM.

Dikatakan oleh Carla, akademisi seolah-olah harus tampil pintar dan sempurna.

Belum lagi dengan beban kerja yang ia terima, seperti mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang harus mereka penuhi.

Ada banyak hal yang memicu terjadinya stres di kalangan akademisi, salah satunya yaitu suasana kerja.

“Pemikiran bunuh diri seringnya berkaitan dengan masalah akademis, pengalaman pelecehan seksual saat masih kecil, gejala depresi, terlibat perkelahian fisik, atau ada masalah sosial-lingkungan,” jelas Carla.

Syam membenarkan bahwa suasana mempengaruhi kenyamanan kerja akademisi, termasuk berpengaruh pada tingkat stres.

Baca juga: Ketua ADINKES, Krisnajaya: KAGAMA dapat Banyak Berperan untuk Pemerataan Pelayanan Kesehatan di Indonesia

”Berlandaskan pada salah satu teori, lingkungan sosial mempunyai stimulasi yang kemudian mempengaruhi pemikiran, perasaan, interaksi sosial, dan kesehatan,” ujar Syam.

Di samping itu, menurut Syam pengaturan dan modifikasi ruang akan membuat orang melakukan kegiatan terbaik.

Lingkungan fisik mempengaruhi kepuasan kerja dan tingkat stres.

Sampai pada puncaknya akan memberi dampak pada kualitas kehidupan kerja.

Dirinya kemudian memaparkan hasil surveinya beberapa waktu lalu.

Selama ini akademisi UGM rata-rata bekerja 10 jam sehari.

”Kebanyakan mengajar dan bekerja mandiri. Di luar itu mereka ada kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Tapi menurut mereka yang bikin stres itu kalau ada urusan administrasi,” ungkap Syam.

Dia memaparkan, sejauh ini rata-rata akademisi di UGM merasa puas dengan kondisi lingkungan kerjanya.

Baca juga: Menkes Nila Imbau Masyarakat Belajar Hidup Sehat dari Jepang