Adi Sutrisno Jadi Dosen Sastra Inggris UGM Berkat Saran Kekasih

1568

Baca juga: Begini Cara Dubes Djauhari Memotivasi Mahasiswa Indonesia di Tiongkok

Kunjungan dan kerja samanya di Amerika itu juga dalam rangka persiapan kuliah S3-nya di UGM.

Lengkap sudah cita-cita Adi untuk mengunjungi tiga negara yang diimpikannya.

Ingin Khusnul Khotimah

Kini Adi diberi amanah untuk menjadi Kaprodi Sastra Inggris dan berusaha menjalankan visi maupun misi prodi.

Dijelaskan oleh Adi, ia bersama dosen-dosen lain ingin prodi S1 Sastra Inggris unggul di tingkat nasional dan bereputasi internasional, berwawasan budaya dan Pancasila.

“Prodi Sastra Inggris sudah tersertifikasi Australian University Network (AUN). Jadi sudah bisa disejajarkan dengan universitas-universitas lain di ASEAN,” ujar dosen yang juga aktif di Asosiasi Prodi Sastra Inggris Indonesia itu.

Baca juga: Selain Menyelesaikan Skripsi, Berbagai Hal Ini Perlu Dipersiapkan Mahasiswa Tingkat Akhir

Selama hidup, Adi memiliki motto yang sederhana.

Ia ingin mendapatkan yang terbaik di akhir hidupnya, yakni menjadi orang yang khusnul khotimah.

“Kalau untuk mencapai ke sana kan harus berbuat baik. Harus selalu berusaha. Ada banyak cara, kalau kita sebagai dosen atau guru, kita sudah punya jalur itu. Tulus mengajar, tulus mengabdi, ada manfaat. Itu bisa mendukung cita-cita utama,” ujar Adi.

Adi berharap bisa menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain.

Ia sudah pernah menjadi penerjemah bagi Sri Sultan Hamengkubuwono X, penerjemah di KTT Non Blok, Kepala Pre-Departure Training Programme untuk kelas Bappenas dan Dikti.

Sementara saat ini, Adi aktif di BAN-PT.

Semua pengalaman itu membawa banyak perubahan bagi diri Adi, termasuk sikap dan pandangannya. (Kinanthi)

Baca juga: Masih Takut? Begini Cara Mendekati Dosen Pembimbing Skripsi