Adi Sutrisno Jadi Dosen Sastra Inggris UGM Berkat Saran Kekasih

1568

Baca juga: Tiga Langkah Strategis Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja di Era Revolusi 4.0

Kelebihan itu kemudian dilirik oleh Juliasih.

Dikisahkan oleh Adi, dosennya itu berpesan kepadanya agar kelak bisa menjadi dosen di Prodi Sastra Inggris.

“Di kemudian hari almarhum Pak Joko Sumitro ketua jurusan, dosen Saya juga melakukan hal yang sama seperti Bu Juliasih. Saya heran dengan mereka, mungkin Bu Juliasih ingin menunjukkan pada ketua jurusan bahwa ada salah satu mahasiswa yang berani. Sebab, setelah lulus Saya diminta mereka berdua untuk menjadi dosen di sini,” ungkap Adi.

Bersamaan dengan itu, Adi merasa dilema karena dirinya sudah diterima di salah satu departemen keuangan di Jakarta.

Atas saran dari kekasihnya, Adi akhirnya memutuskan untuk bekerja di Jogja saja sebagai dosen.

Baca juga: Cara Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja di Era Revolusi Industri 4.0

Adi merasa mantap dengan pekerjaannya ini hingga sekarang.

“Ini sudah menjadi jalan Saya berkarier di Jogja. Saat itu pula Saya mendapat tawaran bekerja sebagai pengajar di luar kota yang gajinya berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan menjadi dosen di sini. Tapi akhirnya tetap memilih di sini,” ujar Adi.

Bercita-cita Mengunjungi Tiga Negara Berbahasa Inggris

Tak lama setelah itu, Adi kemudian menempuh studi lanjut.

Pria asal Bumiayu, Jawa Tengah itu bersyukur bisa menempuh pendidikan S2 di Australia dengan beasiswa.

Sebab sejak dulu Adi bercita-cita mengunjungi tiga negara berbahasa Inggris, yakni Australia, Amerika, dan Inggris.

Baca juga: Sebagaian Besar Angkatan Kerja Indonesia Berpendidikan Rendah