Adi Djoko Serius Jalankan Amanah dan Ikhlas Hadapi Skenario Tuhan

559
Dr. Ir. Adi Djoko Guritno nyaris menempati posisi yang tinggi di salah satu perusahaan BUMN, namun ia lebih memilih menjadi dosen. Foto: Kinanthi
Dr. Ir. Adi Djoko Guritno nyaris menempati posisi yang tinggi di salah satu perusahaan BUMN, namun ia lebih memilih menjadi dosen. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menurut Dr. Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE (55), kemandirian adalah harga seorang lelaki.

Sebelum kuliah dirinya sudah berusaha hidup mandiri.

Bungsu dari empat bersaudara itu kehilangan ayahnya saat dirinya berusia kurang dari satu tahun, sehingga saat itu Adi membiasakan diri untuk membantu ibu dan kakak-kakaknya.

“Kenangan Saya bersama Bapak hilang. Tapi ya, that’s life. Itu bagian dari skenario Tuhan. Blessing saja,” ujar Adi kepada KAGAMA, belum lama ini.

Memiliki Passion Tinggi di Dunia Akademik

Jurusan S1 Teknologi Hasil Pertanian (THP, sekarang TPHP) menjadi bidang keilmuan yang digelutinya setelah lulus SMA, tepatnya pada 1982.

Meski tak memiliki bayangan, beruntungnya Adi merasa cocok dan begitu menikmati belajarnya di jurusan itu.

Salah satu perjuangan yang harus ia lakukan semasa kuliah adalah memburu soal-soal ujian tahun sebelumnya.

“Yang punya soal-soal ujian tahun lalu itu Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Persatuan Mahasiswa Kristen (PMKRI). Akhirnya Saya bergabung ke semuanya demi mendapatkan soal-soal itu,” ujar pria asal Tuban, Jawa Timur itu.

Baca juga: Penyebab Kebakaran Hutan di Indonesia dan Solusinya

Dijelaskan oleh Adi, dirinya tak peduli jika masing-masing organisasi memiliki kepentingan.

“Yang terpenting bahan belajar yang diterima bisa menunjang prestasi akademik,” kelakarnya.

Menghormati Jasa Guru dan Bangga pada Almamater

Berbagai ilmu dan motivasi dari dosen selalu Adi serap dengan baik.

Lulus cepat merupakan salah satu hal yang senantiasa diingat oleh Adi.

“Karena Saya punya amanah dari orang tua. Saya tidak punya cukup alasan untuk tidak fokus. Wong Saya waktu itu juga tidak bekerja,” ujar dosen yang menerima beasiswa Supersemar semasa kuliahnya itu.

Semua kenangan semasa kuliah berkesan bagi Adi, tetapi hal yang paling sulit dilupakan adalah dosen-dosen yang mengajarnya.

Mereka merupakan guru-guru terbaik yang ahli di bidang teknologi pangan, sehingga Adi serius menjalani studinya.

“Kalau ditanya kenangan dengan almamater, ya Saya selalu pride dan merasa hormat pada guru-guru Saya. Dan Saya selalu bersyukur, itu tema hidup Saya dari dulu. Anggap diri merasa paling beruntung,” jelas Adi.

Baca juga: Soal Kerusuhan Papua, Gugus Tugas Papua UGM Rekomendasikan Enam Hal Ini