PRODUKSI karya sastra saat ini kian menjamur tetapi budaya kritik sastra kian luntur. Berawal dari pascareformasi, karya sastra semakin santer diterbitkan. Keadaan ini berbeda jauh dibandingkan tahun 1980-an sampai 1990-an, saat itu kumpulan puisi masih langka diterbitkan kecuali novel dan sebagian kumpulan cerpen.

Sastrawan Abdul Wachid B.S. mengungkapkan hal itu, Senin (12/2/2018) di kediamannya di kawasan Grojogan, Banguntapan, Bantul, DIY. Wachid, panggilan akrabnya, mengambil dua contoh buku puisi dari Sapardi Djoko Damono dan Abdul Hadi WM – keduanya alumni FIB UGM – yang dicetak ulang. Bahkan, karya Sapardi, yang notabene sastrawan senior, sekarang dicintai dan disukai anak muda hingga ada novel dan filmnya yang diambil dari judul puisinya, Hujan Bulan Juni. Hal itu menandakan karya sastra terus ditulis, dibaca, dan diapresiasi khalayak luas.

“Pertanyaannya, dengan terus diproduksi, mengapa apresiasi dan kajian terhadap karya sastra tidak berkembang?” ucap alumnus prodi Sastra Indonesia S1 dan S2 FIB UGM.

Wachid mengingat ucapan WS Rendra yang pernah mengatakan bahwa kritikus yang berpengaruh pada proses kreatifnya adalah penonton. Rendra sendiri tidak percaya terhadap kritikus (akademik). Menurut Rendra penonton dan pembaca sastra dia itulah kritikus yang orisinal, murni, dan tidak munafik.

“Daya seni justru diuji oleh apresiator yang sesungguhnya mereka awam. Sukses atau tidaknya sastra sebenarnya bisa dilihat dari cara menyampaikan ke masyarakat awam. Sementara, masyarakat kritik akademik dinilai oleh Rendra tidak memiliki ketajaman rasa. Padahal kritikus akademik itulah yang seharusnya muncul karena mereka sebagai pembaca ahli,” lanjut Wachid yang telah menulis sejumlah 14 buku puisi, teori, dan kritik sastra.