3 Faktor Penyebab Radikalisasi Keagamaan Mahasiswa dalam Gerakan Islam Radikal

17
Gerakan Mahasiswa.(Foto: vialjabar.com)
Gerakan Mahasiswa.(Foto: vialjabar.com)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Gerakan Islam radikal di Indonesia menarik untuk ditelisik. Terutama tentang keterlibatan para aktivis mahasiswa non studi keagamaan, khususnya mahasiswa yang berlatarbelakang jurusan studi eksak seperti Teknik, Mipa dan Kedokteran.

Hal itu disampaikan oleh Deni Asy’ari, mahasiswa S2 Sosiologi UGM dalam tesisnya yang berjudul “Radikalisasi Gerakan Keagamaan Mahasiswa Non Studi Keagamaan dalam Gerakan Islam radikal.”

Menurut Deni, keberadaan mahasiswa non studi keagamaan tersebut hampir merata ditemui dalam beberapa gerakan Islam radikal di Indonesia, seperti dalam gerakan Majelis Mujahidin Indonesia, (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Gerakan Salafi, gerakan Tarbiyah-Ikhwanul Muslimin Indonesia.

“Keberadaan mahasiswa non studi keagamaan dalam gerakan Islam tersebut cukup menarik dikaji secara akademis (sosiologis), sebab secara latar belakang pendidikan dan latar berlakang sosio-historis mereka sangat jarang bersosialisasi dan berinteraksi dengan nilai-nilai keagamaan yang intensif,” ujar Deni dalam tesisnya.

Menurutnya, selain latarbelakang pendidikan yang mereka jalani bersifat sekuler atau umum, latar belakang sosial dan lingkungan yang masuk dalam kategori abangan juga turut berpengaruh.

“Akan tetapi ketika mereka sudah berinteraksi dengan organisasi gerakan Islam radikal, aktivis mahasiswa non studi keagamaan tersebut menjadi aktivis gerakan keagamaan yang bersikap radikal dan ekstrem dalam melihat berbagai persoalan kehidupan, mulai dari aspek yang terkecil seperti keluarga, hingga kehidupan bernegara dengan ‘merefrence’ secara total dan absolut pada ajaran Islam secara tekstual,” jelas Deni.

Setelah melakukan observasi dan kajian, Deni menemukan faktor penyebab terjadinya proses radikalisasi keagamaan mahasiswa non studi keagamaan dalam gerakan Islam radikal yang terdiri dari tiga faktor utama.

Pertama, ajaran agama bagi mahasiswa non studi keagamaan diposisikan semata-mata sebagai sesuatu yang bersifat doktrinal dan non akademis atau non saintific. Sehingga dalam menerima ajaran keagamaan, tidak ada diskursus yang memadai dalam mengkaji ajaran agama.

Kedua, proses internalisasi ajaran keagamaan yang lebih mengedepankan pada pendekatan indoktrinasi, karena latar belakang pendidikan mahasiswa non studi keagamaan tersebut yang sangat jarang bersentuhan dengan pendidikan dan pengalaman keagamaan.

“Sehingga pendekatan yang demikian jauh lebih efektif dalam melakukan proses internalisasi dan ideologisasi ajaran keagamaan,” tulis Deni.

Ketiga, agama sebagai nilai dan simbol cenderung dijadikan sebagai proses legitimasi untuk identitas sosial dan mobilitas sosial. Sehingga penampilan praktek keagamaan lebih didominasi oleh aspek simbolik dan ritual yang bersifat spesifik.(Thovan)