Sirih Merah Potensial Percepat Penyembuhan Luka Diabetik

49
Sirih merah berpotensi dapat mempercepat penyembuhan luka pada wounded hyperglycemia fibroblasts (wHFs). Foto: Instagram yukberkebun15
Sirih merah berpotensi dapat mempercepat penyembuhan luka pada wounded hyperglycemia fibroblasts (wHFs). Foto: Instagram yukberkebun15

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Sirih merah telah dilaporkan secara empiris mampu mempercepat penyembuhan luka diabetik.

Beberapa studi menunjukkan manfaat tanaman yang memiliki nama ilmiah Piper crocatum Ruiz & Pav (P. crocatum) dalam mengobati berbagai macam penyakit termasuk luka kronik.

Sirih merah dilaporkan dapat menginduksi proliferasi fibroblas.

Namun studi lain melaporkan tanaman herbal ini menghambat proliferasi (fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan).

Oleh karena itu, pemisahan senyawa pada P. crocatum perlu dilakukan untuk mendapatkan efek yang konsisten.

Baca juga: YPHI Diakui Bikin Terobosan Signifikan dalam Sejarah Pengelolaan Hutan di Tanah Air

Kondisi tersebut mendorong Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Andina Setyawati, melakukan penelitian untuk mengidentifikasi efek fraksi aktif P. crocatum terhadap aktivitas in vitro pada wounded hyperglycemia fibroblasts (wHFs).

Penelitian dilakukan dengan metode in vitro menggunakan fibroblas hiperglikemia (HFs) yang ditumbuhkan dari kultur primer jaringan sirkumsisi pada media basal dengan penambahan 17 mMol/L D-glucose.

“Hasilnya sirih merah berpotensi dapat mempercepat penyembuhan luka pada wHFs,” ungkapnya, Rabu (9/3/2022), saat ujian terbuka Program Doktor secara daring.

Ia mempertahankan disertasi berjudul “Efek Fraksi Aktif Piper crocatum Ruiz & Pav terhadap Deposisi Kolagen dan Wound Closure melalui Regulasi Ekspresi p53, aSMA, SOD1 dan E-cadherin pada Wounded Hyperglycemia Fibroblasts.”

Dosen Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin ini menjelaskan sirih merah berpotensi mempercepat penyembuhan luka wHFs terjadi pada konsentrasi paling efektif 7.81 µg/ml.

Baca juga: Pendekatan Model UGM, Usulan Model Pengembangan PLTS Berbasis Komunitas pada Agenda Sustainable Energy Transition Presidency G20 Indonesia

Pada konsentrasi tersebut efektif menyembuhkan luka wFHs dengan meningkatkan deposisi kolagen dan kecepatan wound closure melalui penurunan p53 serta peningkatan αSMA, SOD1, dan E-cadherin.

Selain itu, golongan senyawa polifenol glikosid diduga berkontribusi pada mekanisme tersebut.  (*)