Pengembangan Produk UMK dan Halal DIY bisa Optimal dengan Inovasi G2R Tetrapreneur

154

G2R Tetrapreneur sebagai Jawaban

Sementara Rika Fatimah, selaku Founder, Konseptor dan Tenaga Ahli G2R Tetrapreneur, menyampaikan bahwa model G2R Tetrapreneur menjawab akar potensi khas ekonomi Indonesia yang merupakan aset kekuatan bangsa sebagai ikonik global.

G2R Tetrapreneur (G2RT) bukan sekadar program pemberdayaan ekonomi masyarkat namun merupakan strategisnya penciptaan ekosistem ekonomi yang berdaulat dan mandiri.

Pertama, G2R Tetrapreneur memberdayakan kemanusiaan pada awal Tetra 1 dan Tetra 2.

Tetra 1 atau Rantai Wirausaha Desa merupakan sumber alam yang diwujudkan melalui pemilihan produk unggulan dari masing-masing kelurahan sesuai standar G2RT dan sumber manusia yang tercermin dari terbentuk unit bisnis baru dengan model bisnis khas G2RT di unit G2RT sehingga bersinergi dengan unit bisnis lain di Bumdes.

“Intinya perihal yang dilakukan dari Tetra 1 menuju ke Tetra 2 kegiatannya yaitu berupa pemberdayaan masyarakat.”

“Sedangkan di Tetra 2 adalah penumbuhan ekonomi melalu pasar yang teredukasi atau pasar non kompetisi yang betul-betul secara sadar embracing keunikan crafted hand made-nya produk-produk UMKM dan desa yang pastinya mempunyai spesifikasi berbeda dengan produk pabrikan” tutur Rika yang juga Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).

Kedua, G2R Teterapreneur berinovasi dalam ekonomi gotong royong ikonik pada Tetra 3 dan Tetra 4.

Ekosistem dibentuk secara seimbang baik pelaku dan produk (Tetra 1 dan 2) juga lingkungan berkegiatan ekonominya (Tetra 3 dan 4).

Tetra 3 atau Pasar Kompetisi Unit G2R Tetrapreneur dan Tetra 4 dapat disebut sebagai Akses Pasar Kebijakan.

Selain itu, menurut Rika, G2R Tetrapreneur mengusung pemetaan detail terhadap jenis akses pasar, yaitu pasar non kompetisi, pasar kompetisi, dan pasar kebijakan,  yang disesuaikan dengan proses bisnis berbeda dengan proses konvensional.

Proses bisnis G2R Tetrapreneur sangat sesuai dengan bisnisnya Indonesia, bersama-sama bergotong royong untuk mencapai tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.

“Proses ini tidak mudah untuk ditiru oleh negara-negara lain karena hakekatnya gotong royong memang merupakan ikonnya Indonesia menjadi kahasanah mulia bangsa.”

“Edukasi publik menjadi penting karena publik inilah yang menjadi potensi pasar dari inisiasi ikonik globalnya G2R Tetrapreneur,” pungkas Rika. ***

Turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Abu Yazid, Kepala Bagian Standarisasi dan Pelayanan Publik Biro Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) DIY, serta H. Imam Safi’i, perwakilan dari Biro Bina Pemberdayaan Masyarakat (Bermas) Setda DIY.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan salam sapa baik peserta di daring juga luring. ***