Eksis Berwirausaha di Masa Pandemi dengan Gotong Royong

70

Tiap Generasi Ada Waktunya

Sesi selanjutnya kemudian berlanjut dengan dipandu oleh Rika Fatimah yang  bertindak sebagai moderator.

Paparan narasumber pertama disampaikan oleh dr. Tirta yang menyampaikan bahwa media sosial adalah salah satu alat untuk branding sehingga efek atau dampak yang ingin ditimbulkan dari branding tersebut bergantung pada konsep yang diinginkan.

Selain itu, disampaikan pula bahwa setiap generasi mempunyai ‘waktunya’, sehingga tidak ada istilah suatu generasi lebih baik dari generasi lainnya.

“Tinggal bagaimana kita menyikapinya, mungkin beberapa puluh tahun lagi saya kalah sama anak saya.” tutur dr. Tirta.

Dia berpandangan bahwa tidak ada istilah ‘harga mahal’, karena semua bergantung pada kemampuan finansial seseorang.

“Miskin itu tidak ada, namun segala sesuatunya memerlukan sesuatu atau modal dan modal tidak hanya berupa uang namun juga dapat berupa tenaga, pikiran, dan ilmu,” tutur dr. Tirta.

Sesi pamungkas disampaikan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.

“Process is life, selama hidupnya, manusia akan selalu berproses.”

“Proses yang dimaksud bertujuan untuk survive atau memantapkan pijakan seseorang pada setiap hal yang dilakukannya,” ujarnya.

Ia berpendapat,  apabila telah mencapai hal yang diinginkan, diharapkan dapat merangkul manusia lainnya untuk bersama-sama tumbuh dan berkembang.

Selain itu, diharapkan setiap manusia menjadi duta perubahan sehingga tidak hanya eksklusif atau terbatas saja, namun perubahan kearah yang lebih baik dapat dilakukan secara bersama-sama.

Kesadaran akan pentingnya halal juga harus menjadi fokus para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kesemua poin penting tersebut haruslah secara bersama-sama dan berkelanjutan diimplementasikan untuk kesejahteraan masyarakat baik oleh kaum muda maupun para senior (lintas generasi),” pungkas GKR Mangkubumi. ***