Hutan Lindung Sungai Wain, Diminati Turis Mancanegara Tapi Dilewatkan Turis Domestik

69
KAGAMA Balikpapan berkunjung ke Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) pada Rabu (20/10/2021). Foto: KAGAMA Balikpapan
KAGAMA Balikpapan berkunjung ke Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) pada Rabu (20/10/2021). Foto: KAGAMA Balikpapan

KAGAMA.CO, BALIKPAPAN – KAGAMA Balikpapan berkunjung ke Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) pada Rabu (20/10/2021).

HLSW merupakan salah satu obyek wisata alam di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

HLSW adalah perpaduan obyek wisata hutan dan sungai. Luas keseluruhan kawasan HLSW adalah 10.025 hektar dan dilalui sungai Wain yang panjangnya 18.300 m dengan airnya yang jernih dengan hutan bakau.

Organisasi alumni yang diketuai oleh Bagus Sarwowidjaja Saleh itu bersilaturahmi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola HLSW.

Rombongan diterima langsung oleh Budi Santosa dari KPHL Balikpapan dan Agusrin Ketua Pokdarwis HLSW.

KAGAMA Balikpapan berkunjung ke Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) pada Rabu (20/10/2021). Foto: KAGAMA Balikpapan
KAGAMA Balikpapan berkunjung ke Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) pada Rabu (20/10/2021). Foto: KAGAMA Balikpapan

Baca juga: Mengenang Lilik Yuliarso, Adik Kelas Presiden Jokowi di UGM yang Jadi Penggagas KAGAMA Manado

Budi Santosa mengungkapkan selama ini masyarakat lokal Balikpapan barangkali lebih familiar dengan Kebun Raya Balikpapan yang berlokasi bersebelahan di bagian depan HLSW.

Namun, kata Budi, turis mancanegara pecinta kehidupan alam liar justru lebih mengenal HLSW dan menjadikan tujuan utama ketika datang ke Indonesia atau Kalimantan.

“Tidak banyak daerah yang mempunyai hutan lindung yang masih asli terjaga dan lokasinya tidak jauh dari perkotaan,” jelasnya.

Dalam paparan singkat di Pos Ulin, sebutan rumah lamin tempat pertemuan, Agusrin, anggota HLSW lainnya, menceritakan sejarah singkat HLSW sejak pada mulanya dikenal sebagai “Hutan Tutupan”.

Hal tersebut ditetapkan oleh Sultan Kutai pada Tahun 1934 dengan Surat Keputusan Pemerintah Kerajaan Kutai No. 48/23-ZB-1934 sebagai Hutan Lindung.

Baca juga: Prof. Edy Suandi Hamid: Kebebasan Berpendapat Bukan Nir-Etika