Sang Pengagas Ekonomi Pancasila Berasal dari Kampus Kerakyatan

138

Baca juga: PP KAGAMA dan KAGEOGAMA Berikan Bantuan APD Gown untuk RSA UGM

Menurut Revrisond Baswir, Mubyarto kerap melakukan riset yang benar-benar turun ke bawah.

Dengan kata lain, ia jarang ke industri dan korporasi, lebih memilih di desa pelosok dan daerah transmigrasi.

“Saya tidak menemukan guru besar seperti Prof. Muby yang sampai ke pedalaman, sampai Rokan, pedalaman Riau di Sumatera Utara, Kalimantan, berkumpul dengan petani.”

“Ada energi besar yang dimiliki Prof. Muby sampai pernah keliling ke pelosok. Setelah keliling bukannya kelelahan, eeh saya masih diajak badminton. Nggak kuat lagi saya,” ungkap Dosen FEB UGM ini.

Kekaguman terhadap Mubyarto tak hanya disampaikan oleh Revrisond.

Baca juga: Tanaman Kayu Putih Bisa untuk Reboisasi Hutan dan Menghasilkan Uang

Dalam Ekonomi Pancasila: Warisan Pemikiran Mubyarto (2014), Tarli Nugroho dan Dumairi menyampaikan kenangan Koesnadi Hardjasomenatri terhadap pria yang meninggal di tahun 2005 ini.

Dulu, di zaman Koesnadi menjadi rektor, UGM mengeluarkan kebijakan populis yakni menerima Pedagang Kaki Lima ke dalam kampus.

Kebijakan ini rupanya juga dipengaruhi oleh keinginan Mubyarto menjadikan UGM sebagai kampus ndesa.

Kebetulan di zaman itu, Mubyarto menjabat sebagai Direktur Pusat Pembangunan Pedesaan dan Kawasan (P3PK), sehingga suaranya relatif lebih cepat didengar oleh pejabat rektorat.

Lebih dari itu, kesetiaan antara perkataan dan perbuatan, mendorong Koesnadi menghargai usulan-usulan dari Mubyarto.

“Ia orang yang menyatukan tindaknnya dengan prinsip,” kenang Koesnadi.

Kini Mubyarto telah tiada. Ia meninggal pada 24 Mei 2005 dan dikebumikan keesokan harinya.

Sesaat sebelum dikebumikan di Pemakaman Sawitsari, Andianto Hidayat, putra sulung almarhum berkata, “Selama hidup beliau telah mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk kampus. Di mata keluarga, beliau sosok bapak yang humoris, pantang menyerah, dan penuh perhatian”.

Tak lama berselang, ratusan—bahkan mungkin ribuan—pelayat mengantar jenazah Mubyarto ke peristirahatan terakhirnya. (Vn/-Th)

Baca juga: Rekam Jejak Ali Ghufron Mukti, Sang “Doktor” Asuransi Jaminan Kesehatan