Sang Pengagas Ekonomi Pancasila Berasal dari Kampus Kerakyatan

77
Tak ada karangan bunga ketika Mubyarto dikukuhkan sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM pada Mei 1984. Foto: Arsip UGM
Tak ada karangan bunga ketika Mubyarto dikukuhkan sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM pada Mei 1984. Foto: Arsip UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menurut buku Apa & Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1983–1984 (1984) tak ada karangan bunga ketika Mubyarto dikukuhkan sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM pada Mei 1984.

Rupanya, hal itu tidak menganggu Mubyarto. Justru ketiadaan karangan bunga dari orang-orang penting merupakan hal yang ia harapkan.

Pasalnya, uang untuk membeli bunga dianggap lebih penting jika diberikan ke orang tak berpunya.

“Kiranya fakir miskin dan tujuan lain-lain kemanusian lebih membutuhkannya,” tulisnya dalam kartu kecil yang disisipkan pada undangan.

Dedikasi pria kelahiran Sleman, 3 September 1938 terhadap pengembangan ilmu pengetahuan untuk orang-orang marjinal memang tidak bisa dilupakan.

Baca juga: Kata Guru Besar UGM, Kopi Potensial Cegah Paparan Covid-19

Ia merupakan penganggas konsep “Ekonomi Pancasila” pada tahun 1981.

Di kemudian hari konsep ini lebih dikenal oleh publik sebagai “Ekonomi Kerakyatan”.

Hal ini karena saat itu diksi “Pancasila” kerap digunakan oleh Orde Baru sebagai legitimasi dalam menumbalkan lawan-lawan politiknya.

Wacana yang ia usung bukan sekadar narasi-narasi akademik yang didasarkan pada metode riset pustaka atau survei konsumen.

Baca juga: Sekjen Kemnaker Apresiasi Aksi Nyata KAGAMA Kaltim, Sejahterakan Masyarakat dengan Budi Daya Tanaman Anggur