Belajar, Berkarier, dan Bertemu Jodoh di Fakultas Farmasi UGM

702
Berhubung kuliah di Fakultas Farmasi cukup berat, Prof. Satibi hanya sibuk beraktivitas di seputaran kampus saja, bahkan jodoh dan kariernya pun dia temukan di kampusnya sendiri. Foto: Maulana
Berhubung kuliah di Fakultas Farmasi cukup berat, Prof. Satibi hanya sibuk beraktivitas di seputaran kampus saja, bahkan jodoh dan kariernya pun dia temukan di kampusnya sendiri. Foto: Maulana

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tarik ulur memilih jurusan Farmasi atau Kedokteran, hal ini yang dialami Prof. Dr. Satibi, S.Si., M.Si., Apt., semasa SMA-nya dulu.

Bersamaan dengan itu, ia juga tergugah menemukan obat untuk almarhum ayahnya, yang waktu itu sedang menderita sakit liver.

Satibi akhirnya memilih jurusan Farmasi UGM, karena mengira jurusan ini tidak lebih berat dari Kedokteran.

Namun, ketika mulai menempuh studi di sana pada 1993, ternyata beban belajar juga tak kalah beratnya.

OSPEK yang Menguras Energi

OSPEK merupakan satu masa yang mengesankan bagi Satibi. Ketika itu, mahasiswa tak boleh membawa kendaraan untuk pergi ke kampus.

Alhasil, ia bersama kawan-kawannya berjalan menuju kampus dari kos yang jaraknya sekitar 1,5 km.

“Waktu itu perpeloncoan masih ada ya. Tugas diberikan sampai tengah malam.”

Baca juga: Sinergi Generasi Z-Milenial dengan G2R Tetrapreneur dapat Ciptakan Berbagai Lapangan Pekerjaan

“Kami mendengarkan berita harga sayur mayur, kemudian isi berita kami tulis di kertas, ketentuannya harus ditulis menggunakan bolpoin tiga warna,” tuturnya kepada Kagama, belum lama ini.

OSPEK betul-betul menguras energi Satibi. Banyak tugas, kemudian masih ditambah syarat untuk memotong rambut cepak bagi pria.

”Syaratnya 1 cm, tapi rambut Saya masih 2,5 cm akhirnya suruh maju dan langsung dipotong lagi rambut Saya di situ, lalu dikasih minyak jelantah biar klimis,” kisahnya.

Ada lagi tugas OSPEK, mencari buah pisang yang ganthet (bergandengan). Satibi pun kesulitan mencari.

Ketika mendekati dateline barulah muncul ide untuk menggabungkan dua pisang dengan lidi.

Pengalaman selama OSPEK menjadi sesuatu yang menjengkelkan sekaligus lucu baginya.

Saat itu, ia berpikir bahwa kuliah memang sebegitu beratnya, tetapi itu tantangan yang harus dijalaninya, karena dapat berbuah positif untuk kedisiplinan.

Baca juga: Aktif adalah Senjata Rivan Purwantono dalam Mengubah Takdir