Bekerja di NGO Harus Siap dengan Situasi Dinamis dan Beban Kerja yang Tinggi

1910

Baca juga: Dubes RI untuk Inggris Raya Merasa Iri dengan Keguyuban Alumni UGM

Beruntungnya, Indri mendapat ilmu tersebut saat menempuh studi S2.

Selain di yayasan tersebut, Indri juga pernah terlibat dengan project serupa di Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan UGM.

“Meskipun usia project hanya sebentar dan berganti-ganti, tetapi selalu ada ilmu yang didapat, bertemu orang-orang baru, dan berbagai tantangan yang menarik.”

“Project-project yang digelar oleh NGO ini selalu berusaha mengimplementasikan ilmu yang saya peroleh di kampus,” tutur alumnus Gizi dan Kesehatan UGM angkatan 2005 itu.

Perlu diketahui, lanjutnya, untuk terlibat dalam project-project semacam ini, kita harus siap dengan situasi yang dinamis dan workload (beban kerja-red) yang tinggi.

Untuk itu, Indri berpesan agar kita skillfull dan memiliki manajemen waktu yang baik.

Baca juga: Ketika Ilmu Biologi Bicara Khasanah Budaya Jawa Lewat Keris

“Bagian serunya adalah saya merasa tidak ada yang membosankan dari pekerjaan ini,” terangnya.

Indri mengungkapkan, gaji yang diterima oleh seseorang yang bekerja di NGO atau IGO biasanya tidak dipotong pajak, karena dana yang digunakan adalah dana bantuan.

Besar kecil gaji, kata Indri, tergantung organisasinya. Namun, pada umumnya, ada standardisasi, sehingga tidak bereda jauh dengan sektor lain.

Sejak 2017 hingga saat ini, Indri telah bekerja sebagai Program Staff Community Development Unit di SEAMEO RECFON, sebuah IGO di bawah Kementerian Pendidikan se-Asia Tenggara.

Lembaga ini mempunyai misi menyelenggarakan pendidikan, peningkatan kapasitas, serta penelitian dan diseminasi informasi di bidang pangan dan gizi. Kali ini gajinya diperoleh dari APBN Kemendikbud.

Baca juga: Kisah Dirjen Ali Ghufron Perjuangkan Vaksin Produksi Indonesia sampai Bikin Amerika Keok